SUATU MASA DAHULU DI TANAH TIMUR TENGAH…

Masa Pengasingan, Bani Israel dan Ilmu Sihir

Setelah Bani Israel selamat dari kejahatan Firaun, muncullah sekelompok orang yang menentang Nabi Musa dan Nabi Harun. Kelompok ini dikenal keras kepala dan berlumuran dosa. Tingkah laku mereka yang congkak dan sombong ini nampak ketika Nabi Musa mengajak kaumnya untuk masuk ke Kana’an (Palestin sekarang). Jawapan dari kaumnya dapat kita baca di surah ke-5 ayat ke-22.


Intinya adalah Bani Israel ingin masuk ke Kana’an tanpa bersusah payah melawan musuh yang ada di tanah tersebut. Menurut mereka…
 selama ini Allah telah banyak membantu mereka dari kejaran Firaun, terutamanya ketika terbelah laut Merah. Demikianlah pendapat mereka. Kalimat yang terlontarkan dari mereka sangat tidak layak.

”Pergilah Engkau dan Tuhanmu dan berperanglah kalian berdua. Sesungguhnya kami hanya duduk menanti saja.”

Demikianlah jawaban dari Bani Israel. Secara fizikal mereka telah merdeka. Tetapi secara jiwa mereka masih tetap hamba yang hina. Mereka hanya menanti kemenangan tanpa perlawanan, dan bermimpi di siang hari bahawa Tuhan akan pasti memberi mereka tanah itu seperti yang dijanjikan. Bila memang demikian, tentu Tuhan tidak perlu kecoh-kecoh menyuruh berperang. Inilah pikiran lemah dan sekaligus memperlihatkan sifat mereka yang penakut, tidak memiliki harga diri dan malas. Akhirnya, Allah membiarkan mereka selama 40 tahun menjadi pengembara di padang pasir tanpa boleh memasuki tanah Kana’an.

40 tahun ini merupakan makna bahawa Allah akan menghilangkan satu generasi yang berjiwa kecil tadi dan akan menggantikan generasi lain yang lebih mempunyai jiwa dan benar-benar tidak tersisa sedikit pun jiwa hamba yang hina dahulu. 

Sebelum mereka berhasil masuk ke tanah Kana’an, Nabi Musa wafat terlebih dahulu. Namun, banyak kisah di dalam Al Qur’an yang menceritakan beberapa kejadian penting.

Penyembahan Terhadap Anak Sapi Emas Sampai Dengan Bani Irael Oleh Samiri

.

Kejadian ini terkait hingga hari ini. Dan yang popular adalah tentang cerita penyembahan anak sapi. Penyembahan anak sapi ini terjadi ketika Nabi Musa harus bertemu dengan Allah selama 40 hari. Selama itu pulalah terjadi penyelewengan dalam komuniti Bani Israel. Anak sapi yang terbuat dari emas bukanlah idea yang timbul begitu saja dari diri Samiri, sang tokoh pembuatnya. Seperti yang kita ketahui sebelumnya, Bani Israel telah lama tinggal di negeri Mesir, sebuah negeri yang penuh dengan dewa-dewa. Dan konteks budaya serta agama Mesir dengan Bani Israel telah terjalin lama. Dan dari sebagian Bani Israel inilah masih ada yang menyimpan budaya lokal Mesir, penyembahan terhadap dewa.

Tokoh Samiri sendiri diangkat oleh Allah dalam Al Qur’an bukanlah hanya sekadar nama. Ia rupanya memiliki ilmu sihir, sebuah ilmu mustahak yang dipelajari dalam komuniti Mesir, dan belum hilang pula kepercayaannya terhadap kekuatan para dewa yang ia yakini, meski ia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Firaun mati tenggelam dan bagaimana pula ular-ular, sebuah makhluk binatang yang menjadi simbol kekuatan di Mesir, milik para ahli sihir kalah oleh mukjizat tongkat Nabi Musa. Samiri rupanya masih menyimpan keyakinan Pagan.

Peninggalan Penyembahan Anak Sapi Emas Di Mesir  dan Ritual Bani Israel Menyembah Anak Sapi


Dalam masa selanjutnya, ribuan tahun hingga kini ilmu sihir, ular dan simbol-simbol peradaban Mesir kuno ini masih digunakan oleh Yahudi dalam organisasi rahsianya 

Nota: Para pembaca harap sabar untuk masuk pada artikel ini. Saya akan menyajikannya kepada anda dengan sejelas mungkin. Untuk saat ini anda harus tahu terlebih dahulu sejarah panjang Bani Israel ini. Dan adalah bukan hal yang aneh jika Allah mengangkat kisah Nabi Musa lebih banyak dari pada nabi-nabi yang lain kerana ini terkait dengan zaman hari ini. Mengapa demikian? Teruskanlah mengikuti terus artikel ini.


Samiri juga tahu bahawa bukan hanya dirinya yang masih menyimpan keyakinan Pagan Mesir ini. Ia dengan cerdik menggunakan kesempatan adanya banyak emas terkumpul tanpa kehadiran Nabi Musa. 

Adapun Nabi Harun, Samiri tahu kalau beliau tidak sekeras karakter seperti Nabi Musa. Kisah tentang ini dapat anda boleh baca lebih lanjut dalam surath Thoha yakni surah ke-20 ayat ke-85 hingga ke-98.

Selanjutnya dari kisah Samiri ini adalah ia diusir oleh Nabi Musa. Tidak dijelaskan selanjutnya bagaimana nasib Samiri selepas itu. Tetapi yang menariknya adalah timbul pula pertanyaan, apakah Samiri diusir dan dia diikuti pula oleh sebahagian Bani Israel yang percaya pada apa yang Samiri bawa? Jika tidak, mengapa budaya bangsa India hari ini sama dengan cerita dalam al-Qur’an ini… penyembahan (anak) sapi. 

Perlu diselidiki lebih lanjut oleh para sejarawan tentang kaitan yang begitu erat di antara Peradaban Mesir Kuno dan Kepercayaan di India hari ini. Selain mengagungkan “sapi”, kita juga tahu sungai Nil merupakan sungai suci bagi bangsa Mesir manakala sungai Gangga di India pun demikian.

Hapi dewa sungai Nil
Gangga, dewi sungai Gangga

Kita tahu kalau sapi adalah dewanya bangsa Mesir dan sapi pulalah binatang suci umat Hindu

Apis, dewa berbentuk sapi bangsa Mesir
Nandini, sapi tunggangan dewa agama Hindu

Kita tahu kalau ular Cobra adalah simbol kekuatan bagi Firaun dan tukang sihir di Mesir dan ular Cobra pulalah binatang yang begitu dekat dengan budaya India.

Lihatlah Apopis, dewa ular bangsa Mesir ada persamaan dengan Dewa Siwa, perhatikan ular kobra yang ada di leher.

Siwa Sang Perusak

Kita tahu kalau bangsa Mesir percaya dewa matahari Ra dan Hindu percaya pada dewa Surya.

Ra, dewa matahari bangsa Mesir kuno


Surya, dewa matahari agama Hindu


Selengkapnya lihat gambar berikut akan 13 dewa-dewa bangsa Mesir kuno

lebih jelasnya baca disini : http://portalunique.blogspot.com/2010/12/13-dewa-mitologi-mesir-kuno.html

Apakah Samiri dan pengikutnya menyeberang ke India dan membentuk peradaban dan agama baru di sana? Biarkan ini menjadi “homework” kepada para sejarawan untuk membuktikannya.


Kembali kepada kisah penyembahan sapi… bangsa Mesir telah lama percaya akan penyembahan sapi dan Samiri menggunakan ilmu sihirnya untuk membuktikan bahawa budaya Mesir Kunolah yang menolong mereka dari bencana Firaun. Ini dikatakan olehnya dalam Al Qur’an:

“Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa tetapi Musa telah lupa”.(Q.S.Thoha-88)


Perhatikan kalimat Samiri: “Musa telah lupa”.


Samiri tahu kalau dulu Nabi Musa pernah dibesarkan di lingkungan istana Mesir yang penuh dengan ukiran dewa-dewa. Dan Samiri tahu jika Nabi Musa dulu pernah lama tinggal di Mesir dan hidup serta bergaul dengan budaya Mesir. Dan tentu Nabi Musa tahu sangat akan perihal Apis, dewa sapi bangsa Mesir. Maka ia mengatakan Nabi Musa lupa. Lupa akan budaya dan dewa Mesir.


Tetapi di sini, Samiri pula lupa… Nabi Musa bukanlah penyembah dewa!


Penyembahan Bani Israel kepada anak sapi hasil ilmu sihir Samiri merupakan bukti bahawa Bani Israel percaya akan sihir begitu kuat. Mengapa dapat dikatakan demikian?


Mereka dengan jelas-jelas melihat kekuatan Allah melalui terbelahnya laut Merah tetapi masih tidak percaya akan keberadaan Allah itu sendiri. Ini dapat anda tinjau di surah Al Baqarah ayat ke-55.

Dan ayat ini merupakan petunjuk bagi kita bahawa Bani Israel yang diteruskan hingga kini adalah pelopor aliran falsafah empirisme.


Dan untuk menghapus keyakinan mereka pada kekuatan sapi ini, maka Allah membuat senario akan terbunuhnya salah seorang Bani Israel. Dan untuk mengetahui siapa pembunuhnya tersebut mereka harus memotong seekor sapi! 
Tetapi oleh Bani Israel mereka mengajak debat, sebagai keengganan mereka untuk melakukannya.


Keengganan ini ada dua. Pertama untuk menutupi pembunuh sesungguhnya dan yang kedua ada yang merasa ‘takut ditimpa bencana’ kerana memotong sapi yang dulu mereka percayai sebagai binatang suci. Kalaupun sapi itu dipotong, yang mereka tahu adalah dengan ritual ala bangsa Mesir kuno bukan dengan ritual baru mengikut syariat yang dibawa Nabi Musa.


Keengganan mereka ini dapat dibaca di surah Al Baqarah ayat ke-67 hinga ke-74.

Ada satu hal dalam ayat tersebut di atas. Bani Israel tidak hanya pelopor aliran falsafah empirisme, tetapi juga aliran rasionalisme dengan mencuba untuk berdebat dalam pemotongan sapi betina yang menurut mereka tidak masuk akal.


Demikianlah kisah Bani Israel semasa mereka dalam pengasingan yang mempertontonkan sebahagian dari mereka yang percaya akan sihir.


Kedekatan Bani Israel dengan ilmu sihir ini akan kembali hadir di zaman kita saat ini. Ada terdapat istilah disebut Kabbalah, sebuah aliran kuno bangsa Mesir yang dihidupkan kembali oleh Yahudi dan juga simbol-simbol bangsa Mesir kuno lainnya yang terkait dengan mistik dan sihir.

=======================================

Zaman Setelah Nabi Musa

Nabi Musa wafat sebelum beliau dapat menginjakkan kakinya di tanah Kana’an. Sepeninggalan Nabi Musa a.s, maks tinggallah Nabi Harun a.s. Beliau adalah salah seorang nabi yang telah diminta oleh Nabi Musa pada Allah dalam membantu memperkembangkan agama Allah. Beliau diangkat menjadi nabi pada tahun 1450 SM. Beliau ditugaskan berdakwah kepada para Firaun Mesir dan Bani Israil di Sina, Mesir. 

Nabi Harun a.s adalah abang kandung dari Nabi Musa a.s, maka salasilahnya adalah sebagai berikut… Harun bin Imran bin Qahits bin Lawi bin Yakub bin Ishak bin Ibrahim. 

Menurut sumber lain pula, salasilahnya adalah sebagai berikut… Harun bin Imran bin Fahis bin ‘Azir bin Lawi bin Yaqub bin Ishaq bin Ibrahim bin Azara bin Nahur bin Suruj bin Ra’u bin Falij bin ‘Abir bin Syalih bin Arfahsad bin Syam bin Nuh.

Firman Allah bermaksud: “Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya sebahagian rahmat Kami, iaitu saudaranya, Harun menjadi seorang nabi.”

Harun dilahirkan tiga tahun sebelum Musa. Ia yang fasih berbicara dan mempunyai pendirian tetap sering mengikuti Musa dalam menyampaikan dakwah kepada Firaun, Hamman dan Qarun. Nabi Musa sendiri mengakui saudaranya fasih berbicara dan berdebat, seperti diceritakan dalam al-Quran: “Dan saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya daripadaku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan) ku, sesungguhnya aku khawatir mereka akan berdusta.” 

Selama ditinggalkan Nabi Musa untuk bersuluk di Thur Sina, Harun juga diberikan amanah untuk mengawasi dan memimpin penduduk Bani Israel dari perbuatan mungkar, dan juga menyekutukan Allah dengan benda lain. Musa berkata kepada Harun: “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku dan perbaikilah, jangan kamu mengikuti jalan orang yang melakukan kerosakan.”

Bagaimanapun, selama kepergian Musa ke Thur Sina, berlaku ujian terhadap Bani Israel. Sebahagian mereka menyekutukan Allah dengan menyembah anak lembu yang terbuat dari emas oleh Samiri. Mereka menyembah patung lembu itu setelah terpedaya dengan tipu muslihat Samiri yang menjadikannya boleh berbicara. Harun sudah mengingatkan mereka bahawa perbuatan itu adalah dosa besar, namun segala nasihat dan amaran berkaitan dengan itu tidak dipedulikan.

Selepas bersuluk selama 40 hari, Musa kembali kepada kaumnya dan sungguh terkejut dengan perbuatan menyembah patung sapi itu. Musa bukan saja marah kepada kaumnya, malah Harun sendiri turut ditarik kepala dan janggutnya. Musa bertanya kepada Harun: “Wahai Harun, apa yang menghalangi engkau dari mencegah mereka ketika engkau melihat mereka sesat? Apakah engkau tidak mengikuti aku atau engkau menduharkai perintahku?”. Harun berkata: “Wahai saudaraku, janganlah engkau merenggut janggutku dan janganlah engkau menarik kepalaku, sesungguhnya aku takut engkau akan berkata, “engkau mengadakan perpecahan dalam Bani Israel dan engkau tidak memelihara perkataanku.” 

Kemudian Musa mendapatkan Samiri, lalu berkata: “Pergilah kamu dari sini bersama pengikutmu. Patung sapi itu yang menjadi tuhanmu akan aku bakar, kemudian aku akan hanyutkan ke dalam laut. Kamu dan pengikutmu pasti mendapat azab.”

Nabi Harun hidup selama 122 tahun. Beliau wafat 11 bulan sebelum kewafatan Musa, di daerah al Tiih, iaitu sebelum Bani Israel memasuki Palestin. 

Mengenai Bani Israel, mereka memang degil, banyak permasalahan dan sulit dipimpin, namun dengan kesabaran Musa dan Harun, sesetengah mereka masih dapat dipimpin supaya mengikuti syariat Allah, seperti terkandung dalam Taurat ketika itu.

Setelah Harun dan Musa meninggal dunia, Bani Israel dipimpin oleh Yusya’ bin Nun. Adapun nasib Bani Israel sendiri dipimpin oleh Yusya’ bin Nuh atau dalam Bible beliau disebut Joshua. Menurut para ahli tafsir, beliaulah yang menemani Nabi Musa dalam surat al Kahf ayat ke-60 dan 62. 

Di bawah kepemimpinan Yusya’ bin Nuh ini, Bani Israel mulai menyusun serangan dalam satu pasukan generasi baru setelah empat puluh tahun lamanya mereka tergapai-gapai mencari halatuju hidup di padang pasir yang luas terbentang. Pada tahun 1190 sebelum Masehi, beliau berhasil menaklukkan musuh dan mula menduduki kota Jericho.

Kemudian mereka menyerang kota Adi, sebelah Ramallah, dan berusaha menaklukan al Quds (yang ketika itu menjadi ibu kota bangsa Yabus). Namun, beliau gagal. Jumlah pasukan Bani Israel yang lebih kecil dari musuh membuat mereka terhalang untuk menguasai semua wilayah di Kana’an (Palestin). Yusya’ bin Nuh adalah seorang pahlawan yang gagah berani dan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad nama beliau disebut oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:

“Sesungguhnya matahari belum pernah ditahan bagi manusia kecuali untuk Yusya’ di hari-hari pertempurannya merebut kota al Quds.”

Yusya bin Nuh yang sedang berdo’a agar Matahari tertahan

Sepeninggalan Yusya’,  Yahudi dipimpin pula oleh sekelompok pemimpin yang dikenali dengan sebutan “Para Hakim”, dan zaman mereka ini dikenal dengan nama “Zaman Para Hakim”. 

Keadaan masyrakat Bani Israel ketika di Palestin kembali mengalami penyelewengan moral serta agama. Dan hal ini lebih sukar dan sulit untuk diperbaiki lama-kelamaan sebahagian besar mereka meninggalkan ajaran yang terkandung dalam Taurat. 

Malah, ada kalangan mereka yang mengubah hukum di dalam kitab tersebut, sehingga menimbulkan perselisihan dan perbezaan pendapat, akhirnya menyebabkan perpecahan Bani Israel


Di saat itulah banyak kabilah-kabilah badwi yang mula berani menyerang mereka. Dalam keadaan tersepit, Allah melahirkan di tengah-tengah mereka Para Hakim. Dan kepemimpinan mereka ini tidak berdasarkan hak warisan keturunan. Mereka mendapatkan posisi ini setelah melewati serangkaian ujian-ujian berat. Dengan adanya ujian-ujian ini, lahirlah para generasi baru pahlawan Bani Israel. Kerana itu dalam satu waktu, boleh sahaja terdapat beberapa hakim yang maju bersama-sama memerangi musuh-musuh mereka. 

Pemerintahan para hakim ini berlangsung selama 150 tahun. Dari sekian para hakim, yang terkenal adalah seperti berikut:

1. Gideon

Ia berusaha menyatukan Bani Israel di bawah kekuasaannya. Namun, watak keras kepala Bani Israel telah menenggelamkan rasa persatuan dan solidariti mereka. Inilah faktor yang menghambat tujuan Gideon.

Ilustrasi Gideon sedang menyerang

2. Samson / Simson

Kisah Samson ini ada pada kitab Qashash al-Anbiya dan Muqasyafat al-Qulub. Dalam kitab itu dikatakan bahawa Muhammad tesenyum sendiri, lalu ditanya oleh sahabatnya “Apa yang membuatmu tersenyum wahai Rasulullah?” 

Muhammad menjawab “Diperlihatkan kepadaku hari akhir ketika seluruh manusia dikumpulkan di mahsyar, ada seorang nabi dengan membawa pedang yang tidak mempunyai pengikut satu pun, masuk ke dalam syurga. Dia adalah Samson“. Ia dikisahkan memiliki karamah seperti mukjizat iaitu dapat melunakkan besi dan merobohkan istana. 

Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas: Malaikat Jibril menceritakan kapada nabi Muhammad SAW bahawa pada zaman dahulu ada seorang hamba Allah yang bernama Samson untuk Bani Israil. Ia sentiasa berjuang melawan orang–orang kafir, hingga pada suatu saat isterinya bersama orang–orang kafir berencana membunuhnya. Pada suatu malam istrrinya mengikat tubuh Samson yang sedang tidur lelap dengan rambut milik Samson.

Setelah Samson tidak dapat melawan, maka orang–orang kafir bersama–sama mengarak dan menyiksa Samson dengan keji. Namun ketika itu pula Samson mendapatkan pertolongan dari Allah. Samson berhasil merobohkan istana Kaisar bersama seluruh masyarakatnya hancur beserta isteri dan para kerabat yang mengkhianatinya.

Setelah itu Samson menghabiskan waktunya untuk beribadah. Siang hari digunakan untuk berpuasa dan malamnya ia gunakan untuk solat. Rutin tersebut dilakukan Samson hingga seribu bulan.

3. Samuel

Ia adalah seorang pemimpin agama yang kemudian dijadikan Nabi. Beliaulah yang merupakan kisah di mana Thalut menjadi jeneral untuk berperang dengan Jalut di surat Al Baqarah ayat ke-246 hingga 251. 

Nabi Samuel di sebuah gereja Ortodoks di Byzantium

Pada masa beliau, Bani Israel dalam masa-masa sulit sebagai sebuah bangsa besar. Mereka ingin agar kejayaan sebagai sebuah bangsa besar dapat terwujud. Dan ini hanya diraih dengan berperang melawan musuh-musuh mereka. Kerana itulah, mereka meminta kepada Nabi Samuel untuk menentukan seorang raja bagi mereka yang dapat memimpin dan berperang melawan musuh-musuh mereka. Selanjut kisahnya… anda boleh merujuk ke surat al Baqarah ayat ke-246 hingga 251.

4. Deborah

Beliau adalah seorang wanita yang kuat dan nekad. Ia mampu mengambil peranan laki-laki dalam berbagai peperangan. Ia adalah seorang wanita keturunan Ephraem. Masa Para Hakim ini berlangsung hingga berdirinya kerajaan Bani Israel. 

Ilustrasi Debora

Jumlah mereka sampai lima belas hakim di antara mereka yang telah disebutkan di atas adalah Tashnael, Ahor, Shamago, Yadan, Yefta dan lain-lain. 

Para sejarawan mengatakan bahawa pada zaman Para Hakim, Bani Israel mirip dengan Amerika Syarikat: setiap wilayah satu suku dipimpin oleh beberapa pembesar suku. Suku-suku ini semuanya saling berhubungan dan disatukan oleh satu ikatan. 

Jika anda membaca Kitab Para Hakim di Bible, anda akan mendapatkan kesimpulan bahawa masa ini adalah masa terburuk Bani Israel. Kejahatan dan kemungkaran tersebar, patung-patung disembah, orang-orang saleh dibunuh dan perzinaan bersemarak. Akibat dari penyimpangan akidah dan moral, Bani Israel tertimpa banyak cubaan dan serangan musuh. Puncak dari keputus-asaan mereka ini disampaikan melalui dialog di surat al Baqarah tadi. Maka Allah memilih Thalut atau Saul sebagai pemimpin perang. 

Ilustrasi Thalut diresmikan menjadi pemimpin perang oleh Nabi Samuel

Dan jadilah beliau pemimpin Bani Israel untuk berperang. Dan ini terjadi pada tahun 1025 sebelum Masehi. Thalut atau Saul adalah raja pertama Bani Israel. Namun, beliau tidak pernah berada di ibu kota. Hidupnya lebih banyak dihabiskan di medan pertempuran. Musuh-musuhnya tidak pernah memberi kesempatan untuknya bagi membentuk entiti sebuah kerajaan.

Peperangan beliau yang termasyhur adalah ketika berhadapan dengan Jalut atau Goliath. Tidak hanya kerana pasukan yang dibawanya yang sedikit melawan pasukan berjumlah besar, tetapi juga tampilnya seorang anak muda yang berhasil membunuh Jaluth atau Goliath. Daud a.s. yang kemudian juga menjadi raja sekaligus Rasul.

5. Masa Nabi Daud a.s

Daud a.s. ialah Rasul sekaligus raja Bani Israel di Yudea. Semenjak masih muda telah menyertai tentera Bani Israel di bawah pimpinan Thalut melawan pasukan bangsa Palestin yang dipimpin Jalut . Daudlah yang berhasil membunuh Jalut, sehingga dipuji sebagai pahlawan perang. Setelah Raja Thalut meninggal, Daud menggantikannya sebagai raja. 

Allah mengangkat Daud sebagai nabi dan rasul-Nya. Kepadanyalah diturunkan kitab Zabur. Ia memiliki sejumlah mukjizat, kecerdasan akal, mengerti bahasa burung, dan melembutkan besi hanya dengan menggunakan tangan kosong dan Daud juga memiliki suara yang paling merdu dari semua suara umat manusia, setara seperti Yusuf yang diberikan wajah yang paling tampan.

Nabi Daud a.s. atau David lahir di kota Betlehem atau Baitul Laham. Beliau adalah Daud bin Yussa. Di masa remajanya belaiu adalah penggembala kambing, sebuah profesi para nabi dan rasul sebelum diangkat menjadi nabi atau rasul. Nabi Daud menjadi raja setelah Thalut wafat. Beliau menjadi raja pada tahun 1044 sebelum Masehi hingga 963 sebelum Masehi. Kira-kira 40 tahun masa pemerintahan beliau. 

Pada tujuh tahun pertama pemerintahannya, el Khalil (Hebron) adalah ibu kota kerajaan. Namun, pada tahun-tahun berikutnya, ibu kota kerajaan dipindahkan ke Yerusalem atau Jerusalem. Pada masa pemerintahannya, beliau berhasil menaklukkan dan mengusir bangsa Yabus dari kota al Quds pada tahun 995 sebelum Masehi.

Beliau adalah pendiri kerajaan Israel di Palestin yang sesungguhnya, semua Nabi dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad membawa satu misi tunggal yang sama: Tiada Tuhan selain Allah. Dan ini adalah tauhid dan inti dari Islam. Yang membezakan hanyalah syariat. Syariat Nabi Musa dan Nabi Muhammad berbeza, kerana keadaan waktu dan tempat serta memang itu adalah ketetapan Allah.

Inilah apa yang disampaikan oleh Nabi Musa pertama kali kepada Bani Israel untuk mengusir bangsa Filistine dari Palestin. Kerana misi utama Nabi Musa adalah tauhid dan bangsa Filistine saat itu adalah bangsa berideologi pagan.

Daud yang mulai pembangunan Bait Suci iaitu Baitul Muqaddis yang telah diselesaikan oleh anaknya Sulaiman, yang kemudian sekarang menjadi tempat Masjid Al-Aqsa. Daud meninggal dalam usia 100 tahun dan dikebumikan di Baitul Muqaddis.

6. Masa Nabi Sulaiman a.s


Setelah Nabi Daud wafat, maka sebagai penggantinya adalah Nabi Sulaiman. Sulaiman merupakan seorang raja Israel, dan anak Raja Daud. Namanya disebutkan sebanyak 27 kali di dalam Al-Quran. Sejak kecil ia telah menunjukkan kecerdasan dan ketajaman fikirannya. M
enjadi raja pada tahun 963 hingga wafat pada tahun 923 sM.

Raja segala Makhluk

Allah SWT mengangkatnya sebagai nabi dan rasul. Setelah Sulaiman cukup umur dan ayahandanya wafat, Sulaiman diangkat menjadi raja di kerajaan Israel. Ia berkuasa tak hanya atas manusia, namun juga atas binatang dan makhluk halus seperti jin dan lain-lain. Baginda dapat memahami bahasa semua binatang.

Istana Nabi Sulaiman sangat indah. Dibangun dengan gotong royong manusia, binatang, dan jin. Dindingnya terbuat dari batu pualam, tiang dan pintunya dari emas dan tembaga, atapnya dari perak, hiasan dan ukirannya dari mutiara dan intan, berlian, pasir di taman ditaburi mutiara, dan sebagainya.

Interaksi Sulaiman dengan jin, binatang dan lainnya

Nabi Sulaiman dianugerahkan Allah kebijaksanaan sejak remaja. Ia juga memiliki berbagai keistimewaan, termasuk mampu berbicara dan memahami bahasa haiwan sehingga semua makhluk itu mengikuti kehendaknya.

Allah berfirman: “Dan sesungguhnya Kami telah memberikan ilmu kepada Daud dan Sulaiman dan keduanya mengucapkan; segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dan banyak hambanya yang beriman. Dan Sulaiman telah mewarisi Daud dan dia berkata; Wahai manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya semua ini benar-benar satu anugerah yang nyata.”

Ia juga dapat menundukkan jin dan angin, sehingga dapat disuruh melakukan apa saja, termasuk mendapatkan tembaga cair yang selalu keluar dari perut bumi untuk dijadikan perkakasan, bangunan istana, benteng, piring-piring besar dan tungku-tungku.

Firman Allah bermaksud: “Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman yang perjalanannya pada waktu petang, sama dengan perjalanan sebulan dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian daripada jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka daripada perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.”

Kebijaksanaan Sulaiman

Kebijaksanaan Sulaiman dapat dilihat melalui berbagai peristiwa yang dilaluinya. Misalnya, beliau cuba mengetengahkan idea kepada bapanya, Nabi Daud a.s. bagi menyelesaikan perselisihan di antara dua pihak, iaitu di antara pemilik kebun dan pemilik kambing.

Walaupun ketika itu usianya masih muda, pendapatnya bernas. Mulanya Nabi Daud memutuskan pemilik kambing supaya menyerahkan ternaknya kepada pemilik kebun sebagai ganti rugi disebabkan ternaknya memasuki dan merosakkan kebun itu. Sulaiman yang mendengar keputusan bapanya menyelanya: “Wahai bapaku, menurut pandanganku, keputusan itu sepatutnya berbunyi; kepada pemilik tanaman yang telah musnah tanaman diserahkanlah kambingnya untuk dipelihara, diambil hasilnya dan dimanfaatkan bagi keperluannya. “Manakala tanamannya yang binasa itu diserahkan kepada pemilik kambing untuk dijaga sehingga kembali kepada keadaan asal. Kemudian masing-masing menerima kembali miliknya, sehingga dengan cara demikian masing-masing pihak tidak ada yang mendapat keuntungan atau menderita kerugian lebih daripada sepatutnya.” Pendapat yang dikemukakan Sulaiman dipersetujui kedua pihak. Malah khalayak ramai yang menyaksikan perbicaraan itu kagum dengan kebolehan beliau menyelesaikannya.

Sulaiman Naik Tahta

Bertitik tolak daripada peristiwa itu, kewibawaan Sulaiman semakin tersebar dan ia juga sebagai bibit permulaan kenabian Sulaiman. Melihat kecerdasan akal yang ditonjolkannya itu, Nabi Daud menaruh kepercayaan dengan mempersiapkannya sebagai pengganti dalam kerajaan Bani Israel. Namun, abangnya Absyalum tidak merelakan beliau melangkah lebih jauh dalam hiraki pemerintahan itu, malah mendakwa dia yang sepatutnya dilantik sebagai putera mahkota kerana Sulaiman masih muda dan tidak berpengalaman. 

Absyalum mahu mendapatkan takhta itu dari bapa dan adiknya. Justeru itu, dia mulai menunjukkan sikap baik terhadap rakyat, dengan segala masalah mereka ditangani sendiri dengan segera, membuatkan pengaruhnya semakin meluas.

Sampai satu ketika, Absyalum mengisytiharkan dirinya sebagai raja, sekaligus merampas kekuasaan bapanya sendiri. Tindakannya itu mengakibatkan huru-hara di kalangan Bani Israel. Melihatkan keadaan itu, Nabi Daud keluar dari Baitul Maqdis, menyeberangi Sungai Jordan menuju ke Bukit Zaitun. Tindakannya itu semata-mata mahu mengelakkan pertumpahan darah, namun Absyalum dengan angkuh memasuki istana bapanya. 

Di Bukit Zaitun, Nabi Daud memohon petunjuk Allah supaya menyelamatkan kerajaan Bailtul Maqdis daripada dimusnahkan anaknya yang durhaka itu. Allah segera memberi petunjuk kepada Nabi Daud, iaitu memerangi Absyalum. Namun, sebelum memulai peperangan itu, Nabi Daud berpesan kepada tenteranya supaya tidak membunuh anaknya itu, malah jika boleh ditangkap hidup-hidup. Bagaimanapun, kuasa Allah melebihi segalanya dan ditakdirkan Absyalum mati juga kerana dia mahu bertarung dengan tentera bapanya.

Kemudian, Nabi Daud kembali ke Baitul Maqdis dan menghabiskan sisa hidupnya selama 40 tahun di istana itu sebelum melepaskan takhta kepada Sulaiman. Kewafatan Nabi Daud memberikan kuasa penuh kepada Nabi Sulaiman untuk memimpin Bani Israel berpandukan kebijaksanaan yang dianugerah Allah.

Zaman beliau ini secara umum adalah zaman tenang baik secara politik, sosial dan ekonomi. Hal tersebut disebabkan Nabi Daud telah menghilangkan segala rintangan dan menaklukkan seluruh kekuatan politik. Dengan demikian, Nabi Sulaiman dapat fokus pada pembangunan dan perluasan kerajaan. 

Kejayaan kerajaan Yahudi/Israel zaman Nabi Sulaiman ini merupakan hal yang wajar. Di satu sisi kerana masa tenang secara politik juga kerana Nabi Sulaiman memohon agar beliau diberi sebuah masa kerajaan yang hebat hingga tidak ada lagi Nabi sesudahnya yang diberi anugerah seperti beliau. Ertinya, semasa hidup nabi sesudah Nabi Sulaiman tidak memiliki apa yang dimiliki oleh Nabi Sulaiman. Dan pada masa ini beliau membangun sebuah kuil Temple of Solomon atau Bait Allah (Baitullah).


Ratu Balqis Tunduk Kepada Sulaiman

Setelah membangunkan Baitul Muqaddis, Nabi Sulaiman menuju ke Yaman. Tiba di sana, disuruhnya burung hud-hud (sejenis pelatuk) mencari sumber air. Tetapi burung berkenaan tiada ketika dipanggil. Ketiadaan burung hud-hud menimbulkan kemarahan Sulaiman. Selepas itu burung hud-hud datang kepada Nabi Sulaiman dan berkata: “Aku telah terbang untuk mengintip dan terjumpa suatu yang sangat penting untuk diketahui oleh tuan…”

Firman Allah, bermaksud: “Maka tidak lama kemudian datanglah hud-hud, lalu ia berkata; aku telah mengetahui sesuatu, yang kamu belum mengetahuinya dan aku bawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.

“Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgahsana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah…”

Mendengar berita itu, Nabi Sulaiman mengutuskan surat mengandungi nasihat supaya menyembah Allah kepada Ratu Balqis. Surat itu dibawa burung hud-hud dan diterima sendiri Ratu Balqis. Selepas dibaca surat itu, Ratu Balqis menghantarkan utusan bersama hadiah kepada Sulaiman. Dalam al-Quran diceritakan: “Tatkala utusan itu sampai kepada Nabi Sulaiman, seraya berkata; apakah patut kamu menolong aku dengan harta?

“Sesungguhnya apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikannya kepadamu, tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu”.

“Kembalilah kepada mereka, sungguh kami akan mendatangi mereka dengan bala tentara yang mereka tidak mampu melawannya dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dengan terhina dan mereka menjadi tawanan yang tidak berharga.”

Utusan itu kembali ke negeri Saba dan menceritakan pengalaman yang dialami di Yaman kepada Ratu Balqis, sehingga dia berhajat untuk berjumpa sendiri dengan Sulaiman. Keinginan Ratu Balqis untuk datang itu diketahui Nabi Sulaiman terlebih dulu. Beliau segera memerintahkan seluruh tenteranya yang terdiri dari manusia, haiwan dan jin untuk membuat persiapan bagi menyambut kedatangan Ratu Balqis. Nabi Sulaiman kemudian menitahkan untuk memindahkan singasana Ratu Balqis ke istana beliau.

Berkata Sulaiman: “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” (Q.S : An-Naml : 38).  

Berkata Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgahsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercayai.”(Q.S : An-Naml : 39).

Kemudian berkatalah pula seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab “Aku akan membawa singgahsana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, dia pun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencuba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (Q.S : An-Naml : 40).

Dia berkata: “Bawalah baginya singgahsananya; maka kita akan melihat apakah dia mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenal(nya).”(Q.S : An-Naml : 41).


Manakala Ratu Balqis tiba, ia ditanya oleh Sulaiman: “Seperti inikah singgahsanamu?” Dengan terperanjat, Ratu Balqis menjawab: “Seakan-akan singgasana ini singgahsanaku” Kemudian Ratu Balqis dipersilakan masuk ke istana Nabi Sulaiman. Namun, ketika berjalan di istana itu, sekali lagi Ratu Balqis terpedaya, kerana menyangka lantai istana Sulaiman terbuat dari air, sehingga ia menyingkap kainnya.

Firman Allah yang bermaksud: Dikatakan kepadanya; masuklah ke dalam istana. Maka tatkala dia (Ratu Balqis) melihat lantai istana itu, dikiranya air yang besar dan disingkapkannya kedua betisnya.

Berkatalah Sulaiman; “sesungguhnya ia istana licin yang diperbuat daripada kaca”. Berkatalah Balqis; “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman dan kepada Allah, Tuhan semesta alam.”

Peristiwa itu menyebabkan Ratu Balqis berasa sangat aib dan menyedari kelemahannya, sehingga dia memohon ampun atas kesilapannya selama ini dan akhirnya dia diperisterikan oleh Nabi Sulaiman.

Wafatnya Sulaiman 

Kisah Sulaiman dan tenteranya yang terdiri daripada manusia, haiwan dan jin dalam menjalankan dakwah Allah terhadap Ratu Balqis. Kematian beliau berlainan dengan manusia biasa. Nabi Sulaiman wafat dalam keadaan duduk di kerusi takhta, dengan memegang tongkat sambil mengawasi dan memerhatikan jin yang bekerja.

Firman Allah: “Tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka setelah kematiannya itu melainkan anai-anai yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, nyatalah bagi jin itu bahawa sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam seksa yang menghinakan”.

Maket ilusi Yahudi-zionis akan kuil(?) Nabi Sulaiman. Perhatikan bagaimana kuil tersebut menyimbolkan agama pagan dari pada agama Islam (tauhid)

Gambar ilusi kuil Nabi Sulaiman

Jika memang Nabi Sulaiman membangun sebuah bait suci tersebut bukanlah tempat menyimpan harta yang banyak. Sebab di zaman sekarang banyak Yahudi yang menduga di bawah reruntuhan kuil itu terdapat harta Nabi Sulaiman yang kini di atasnya berdiri masjid al Aqsa. Sebagai seorang muslim dan Nabi, raja Sulaiman tidaklah mungkin menyimpan harta kekayaan di kuilnya. Menurut Sayid Quthub dalam tafsirnya, beliau mengatakan:

“Tidak semua penduduk bumi menjadi tentera Nabi Sulaiman, kerana kerajaannya tidak lebih dari apa yang ada sekarang dikenal dengan Palestin (ini benar menurut kajian, kerana ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Sulaiman hanya untuk Bani Israel dan tanah Palestin sebagai misi warisan dari Nabi Musa dan bukan untuk menguasai seluruh jazirah timur tengah. Kerana itu tadi, dakwah Islam Nabi Sulaiman terbatas pada bangsa Israel, demikian pendapat yang setuju dengan pendapat Sayid Quthub). Juga tidak semua jin dan burung ditundukkan bagi Nabi Sulaiman, hanya beberapa kelompok dari mereka.”

Memang tulisan di atas sepatutnya masuk akal, harta yang paling berharga bagi umat Yahudi adalah ilmu pengetahuan. Masih banyak sahaja yang menduga harta itu berupa emas atau lainnya.

Demikian pendapat Sayid Quthub. Sebagai kata penutup untuk bab ini, Nabi Sulaiman inilah yang menjadi sasaran fitnah Yahudi Zionis di masa mendatang sebagai penguasa ilmu sihir dan pelindung syaitan. Fitnah terus berlangsung dengan ilusi tentang kuil yang sejatinya hanyalah sebuah bait-Allah untuk beribadat. Tetapi oleh Yahudi-Zionis dijadikan alasan untuk meruntuhkan masjid al-Aqsa dan mendirikan kerajaan syaitan berlandaskan ilmu sihir kabbalah.

Hal ini disampaikan oleh Allah dalam surat al Baqarah ayat ke-102 tentang fitnah atas Nabi Sulaiman yang menyembah Iblis dan pelindung syaitan serta memiliki ilmu sihir penerus ilmu sihir kabbalah.

“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahawa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil iaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cubaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui”. (Q.S al-Baqarah : 102)

Sekian dahulu. Semoga bermanfaat.

Allahu’alam…

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s