KISAH BAGAIMANA INDONESIA BERJAYA DICENGKAM OLEH TANGAN GHAIB

​DI MANA KEJATUHAN INDONESIA BERMULA?

(Gambar)  Mantan Presiden Indonesia, Suharto menandatangani dokumen perjanjian IMF sambil diperhatikan Pengarah Urusan IMF, Michel Camdessus (Freemason) di Jakarta pada 15 Januari 1998, atas arahan Jacob Rothschild. Kini anak bongsu Jacob (Nat Rothschild) adalah raja di Indonesia.

================================================================================================================================

SOEKARNO DIJATUHKAN DAN DINAIKKAN PEMIMPIN2 BONEKA

Presiden Indonesia selepas Soekarno adalah boneka Freemason dan dipilih sendiri oleh David Rockefeller.

Bulan November 45  tahun lalu, Jenderal Suharto yang telah berjaya menjatuhkan Bung Karno, menghantar satu team ekonomi yang terdiri dari Prof. Sadli,  dan beberapa profesor ekonomi lulusan Berkeley University AS-sebab itu team ekonomi ini juga disebut sebagai ‘Berkeley Mafia’-ke Swiss. Mereka hendak menggerakkan pertemuan dengan sejumlah kesatuan Yahudi dunia yang dipimpin Rockefeller.  

Di Swiss, sebagaimana dilihat dari filem dokumentari karya John Pilger berjudul”The New Ruler of the World’ yang boleh didownload di laman youtube, team ekonomi suruhan Jenderal Suharto ini menggadaikan seluruh kekayaan alam negeri ini kepada David Rockefeler.   Dengan seenak perutnya, mereka mengagih-agihkan  bumi Nusantara dan memberikannya kepada pengusaha-pengusaha Yahudi tersebut. Gunung emas di Papua diserahkan kepada Freeport, ladang minyak di Aceh kepada Exxon, dan sebagainya. Undang-Undang Penanaman Modal Asing (UU PMA) tahun 1967 pun dirancang di Swiss, menuruti kehendak para pengusaha Yahudi tersebut. 

============================================================================================================================================
FREEMASON & SUHARTO MERANCANG KEJATUHAN SOEKARNO

Jatuhnya Bung Karno dan naiknya Jenderal Suharto diraikan dgn penuh kegembiran oleh Freemason @ Washington. Bahkan Presiden Nixon menyebutnya sebagai “Hadiah terbesar dari Asia Tenggara”. Satu negeri dengan wilayah yang sangat strategik, kaya raya dengan sumber daya alam, segenap bahan semulajadi,  dan sebagainya ini telah berhasil dikuasai dan dalam waktu singkat akan dijadikan ‘sapi perahan’ bagi kejayaan imperialisme Barat. November 1967, Jenderal Suharto menugaskan satu team ekonomi pro-AS menemui para’bos’ Yahudi Internasional di Swiss. 

Disertasi Doktoral Brad Sampson, dari Northwestern UniversityAS menelusuri fakta sejarah Indonesia di awal Pemerintahan Baru. Prof. Jeffrey Winters diangkat sebagai penganjur. Indonesianis asal Australia, John Pilger dalam The New Rulers of The World, mengutip Sampson dan menulis: 

“Dalam bulan November 1967, menyusul tertangkapnya ‘hadiah terbesar’ (istilah pemerintah AS untuk Indonesia setelah Bung Karno jatuh dan digantikan oleh Soeharto), maka hasil tangkapannya itu diagih-agihkan.  The Time Life Corporation menaja persidangan  istimewa di Jenewa, Swiss, yang dalam waktu tiga hari membahas strategi pengambil-alihan Indonesia. 

Para pesertanya terdiri dari seluruh kapitalis yg paling berpengaruh di dunia, orang2 seperti David Rockefeller & Jacob Rothschild. 

Semua raksasa korporasi Barat diwakili perusahaan2 minyak dan bank, General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, US Steel, ICI, Leman Brothers, Asian Development Bank, Chase Manhattan, dan sebagainya.”

Di seberang meja, duduk orang2 Soeharto yg dipilih oleh Rockefeller dan pengusaha2 Yahudi lainnya disebut sebagai ‘ekonomi-ekonomi Indonesia yg korup’.

“Di Jenewa, Team Indonesia terkenal dgn sebutan ‘The Berkeley Mafia’ kerana beberapa di antaranya pernah menikmati biasiswa dari pemerintah Amerika Syarikat untuk belajar di Universiti California di Berkeley. Mereka datang sebagai peminta-minta yang menyuarakan hal-hal yang diinginkan oleh para majikannya yang hadir. Menawarkan butir-butir yang dijual dari negara dan bangsanya. Team  Ekonomi Indonesia menawarkan: tenaga buruh yg banyak dan murah, cadangan dan sumber daya alam yg melimpah, dan pasar yg besar.” 

Masih dalam ucapan John Pilger, “Pada hari kedua, ekonomi Indonesia telah terbahagi kpd sektor demi sektor.” Prof. Jeffrey Winters menyebutnya, “Ini dilakukan dgn cara yg amat hebat.”

“Mereka membahagikannya dalam lima bahagian: melombong disuatu kawasan, perkhidmatan di kawasan lain, industri ringan di satu kawasan, perbankan dan kewangan di tempa yg lain lagi; yang dilakukan oleh Chase Manhattan duduk dengan sebuah delegasi yang mendiktekan kebijakan2 yg dapat diterima oleh mereka dan para pelabur. Kita saksikan para pemimpin perusahaan besar ini berkeliling dari satu meja ke meja lain, mengatakan, 

‘Ini yang kami inginkan, itu yang kami inginkan, ini, ini, dan ini.’ 

Dan mereka pada dasarnya merancang undang2 infrastruktur  untuk melakukan pelaburan.   Tentunya perundangan yang sangat menguntungkan mereka. Saya tidak pernah mendengar situasi seperti itu sebelumnya, di mana modal global duduk dengan wakil dari negara yang dianggap sebagai negara berdaulat dan merancang persyaratan buat masuknya pelaburan mereka ke dalam negaranya sendiri.”

Freeport mendapatkan gunung tembaga di Papua Barat (Henry Kissinger, pengusaha Yahudi AS, duduk dalam Dewan Komisaris). Sebuah konsorsium Eropah mendapatkan Nikel di Papua Barat. Sang raksasa Alcoa mendapatkan bahagian terbesar dari bauksit Indonesia. Sekelompok perusahaan Amerika, Japan, dan Perancis mendapatkan hutan-hutan tropika di Kalimantan, Sumatera, dan Papua Barat.

Pada 12 Mac 1967, Jenderal Soeharto dilantik sebagai Presiden RI ke-2. Tiga bulan kemudian, beliau membentuk Team Ahli Ekonomi Kepresidenan yang terdiri dari Prof Dr. Widjojo Nitisastro, Prof. Dr. Ali Wardhana, Prof Dr. Moh. Sadli, Prof Dr. Soemitro Djojohadikusumo, Prof Dr. Subroto, Dr. Emil Salim, Drs. Frans Seda, dan Drs. Radius Prawiro. Semuanya pro kapitalisme.

November 1967, Suharto menghantar team ekonomi ini ke Swiss menemui para CEO Freemason Antarabangsa,  Lahirlah UU PMA 1967 yang sangat menguntungkan imperialis Barat. Prinsip kemandirian ekonomi Indonesia yang dijaga mati-matian Bung Karno, oleh Jenderal Suharto dihapuskan  dengan menjadikan Indonesia sebagai negara yang sangat tergantung pada Barat sebagai kekuatan kapitalis dunia.

“Indonesia Baru” yang lebih pro-kapitalisme sesungguhnya telah dirancang sejak tahun-tahun 1950-an. David Ransom dalam artikelnya yang popular berjudul “Mafia Berkeley dan Pembunuhan Massal di Indonesia: Kuda Troya Baru dari Universitas-Universitas AS Masuk ke Indonesia” (Ramparts, 1970) memaparkan jika AS menggunakan dua strategi untuk menakluki Indonesia, tentu saja dengan menyingkirkan Bung Karno. 

Pertama, membangun satu kelompok intelektual yang berfikiran Barat. Dan kedua, membangun satu sel dalam tubuh ketenteraan yang bersiap sedia bekerjasama dengan AS.

Yang pertama didalangi oleh berbagai yayasan biasiswa seperti  Rockefeller Foundation & Ford Foundation, juga berbagai universiti ternama AS seperti Berkeley, Harvard, Cornell, dan juga MIT. David Ransom menulis, dua tokoh Partai Sosialis Indonesia (PSI), sebuah parti ecil yang berhaluan sosialis-kanan, iaitu  Soedjatmoko dan Sumitro Djojohadikusumo menjadi hujung tombak pembentukan jaringan intelektual  pro-Barat di Indonesia. Mereka, demikian Ransom, dibina oleh AS sejak akhir tahun 1949-an. 

Sedang tugas kedua dilimpahkan kepada CIA. Salah satu agennya bernama Guy Pauker yang bergabung dengan RAND Corporation mendekati sejumlah perwira tinggi melalui salah seorang yang dikatakan berhasil direkrut CIA, iaitu Deputi Dan Seskoad Kol. Soewarto. Dan Intel Achmad Soekendro juga sangat terkenal dengan CIA.  Melalui orang inilah, demikian Ransom, komplotan AS, mendekati militer. Suharto adalah murid dari Soewarto di Seskoad.

Di Seskoad inilah para intelektual binaan AS diberi kesempatan mengajar para perwira. Terbentuklah jalinan kerjasama antara ketenteraan awam yang pro-AS. Paska tragedi 1965 dan pembantaian rakyat Indonesia, yang dituduh komunis, dan kelompok ini mulai membangun ‘Indonesia Baru’. Para doktor ekonomi yang mendapat biasiswa dari Rockefeller Foundation kembali ke Indonesia dan segera bergabung dengan kelompok ini, di antaranya Emil Salim. 

Jenderal Suharto membentuk Trium-Virat (pemerintahan bersama tiga kaki) dengan Adam Malik dan Sultan Hamengkubuwono IX. Ransom menulis, “Pada 12 April 1967, Sultan mengumumkan satu pernyataan politik yang amat penting yakni garis besar program ekonomi rejim baru itu yang menegaskan mereka akan membawa Indonesia kembali ke pangkuan Imperialis. Kebijakan tersebut ditulis oleh Widjojo dan Sadli.”

Ransom menambah,  “Dalam merinci lebih lanjut program ekonomi yg baru saja di gariskan Sultan, para teknokrat dibimbing oleh AS. Saat Widjojo kebingungan menyusun program kestabilan ekonomi, AID membawa David Cole, ekonomi Harvard yang baru saja membuat peraturan perbankan di Korea Selatan untuk membantu Widjojo. 

Sadli juga sama, meski sudah doktor, tapi masih memerlukan “bimbingan”. Menurut seorang pegawai Kedubes AS, “Sadli benar-benar tidak tahu bagaimana seharusnya membuat suatu regulasi Penanaman Modal Asing. Dia harus mendapatkan banyak dari Kedutaan Besar Amerika Syarikat.

Ini merupakan tahap awal dari program Rancangan Pembangunan Lima Tahunan (Repelita) Suharto, yang disusun oleh para ekonomi Indonesia didikan AS, yang masih secara langsung dimbing oleh para ekonom AS sendiri dengan kerjasama dari berbagai yayasan yang ada. 

Jun 1968, Jenderal Suharto secara diam-diam dan mendadak mengadakan reunion dengan orang-orang binaan Ford, yang dikenal sebagai “Mafia Berkeley” (untuk merancangkan susunan Kabinet Pembangunan dan badan-badan penting peringkat tinggi): 

sebagai Menteri Perdagangan ditunjuk Dekan FEUI Sumitro Djojohadikusumo (Doctor of Philosophy dari Rotterdam), Ketua BPPN ditunjuk Widjojo Nitisastro (Doctor of Philosophy Berkeley, 1961), Wakil Ketua BPN ditunjuk Emil Salim (Doctor of Philosophy, Berkeley, 1964 ), Dirjen Pemasaran dan Perdagangan ditunjuk Subroto (Doctor of Philosophy dari Harvard, 1964), Menteri Keuangan ditunjuk Ali Wardhana (Doctor of Philosophy, Berkeley, 1962), Ketua Team PMA Moh. Sadli (Master of Science, MIT, 1956), Sekjen Departemen Perindustrian ditunjuk Barli Halim (MBA Berkeley, 1959), sedang Sudjatmoko, penasehat Adam Malik, diangkat jadi Duta Besar di Washington, posisi kunci poros Jakarta-Washington.

Teamm ekonomi “Indonesia Baru” ini bekeja dengan arahan langsung dari Team  Kajian  Pembangunan Harvard (Development Advisory Service, DAS) yang dibiayai Rockefeller Foundation.

“Kita bekerja di belakang tabir,” aku Wakil Direktur DAS Lister Gordon. AS segera memback-up penguasa baru ini dengan segenap daya sehingga kestabilan  ekonomi Indonesia yang sengaja dirosakkan oleh AS pada masa sebelum 1965 boleh sedikit demi sedikit dipulihkan. Mereka inilah yang berada dibelakang Repelita yang mulai dijalankan pada awal 1969, dengan mengutamakan penanaman modal asing dan kemampuan hasil pertanian.  

Dalam banyak kes kes,, pejabat birokrasi pusat mengandalkan pejabat militer di daerah-daerah untuk mengawasi kelancaran program Rockefeller  ini.

Mereka bekerjasama dengan para tokoh daerah yang terdiri dari para tuan tanah dan pejabat administratif. Terbentuklah kelompok baru di daerah-daerah yang bekerja untuk memperkaya diri dan keluarganya. Mereka, kelompok pusat dan kelompok daerah, bersimbiosis-mutualisme. Mereka juga menindas para petani yang bekerja di lapangan.

April 1966 Suharto kembali membawa Indonesia bergabung dengan PBB. Setelah itu, Mei 1966, Adam Malik mengumumkan jika Indonesia kembali menyertai IMF. 

Padahal Bung Karno pernah mengusir mereka dengan kalimatnya yang terkenal:”Go to hell with your aid!” 

Untuk menjaga kestabilan penjarahan kekayaan negeri ini, maka Barat merancang Repelita. Tiga perempat anggaran Repelita I (1969-1974) berasal dari hutang luar negeri. “Jumlahnya membengkak hingga US$ 877 juta pada akhir periode. Pada 1972, utang asing baru yang diperoleh sejak tahun 1966 sudah melebihi pengeluaran saat Soekarno berkuasa.” (M.C. Ricklefs; Sejarah Indonesia Modern, 1200-2004; Sept 2007). 

Dalam hitungan bulan setelah berkuasa, kecenderungan pemerintahan baru ini untuk memperkaya diri dan keluarganya kian menggila. Rakyat yang miskin bertambah miskin, sedang para pejabat walau sering menyuruh rakyat agar hidup sederhana, namun kehidupan mereka sendiri kian hari kian mewah. Kemesraan antara Suharto dengan para mahasiswa yang dulu mendukungnya dengan pantas telah  pudar.

Francis Raillon menulis, “Sepanjang 1972-1973 di sekitar Suharto terjadi rebutan pengaruh antara ‘kelompok Amerika’ melawan ‘kelompok Japan’. Yang pertama terdiri dari para menteri teknokrat dan sejumlah Jenderal, Pangkopkamtib Jend. Soemitro salah satunya. Kelompok kedua, dipimpin Aspri Presiden, Jend. Ali Moertopo, dan Jend. Soedjono Hoemardhani.” 

Suharto memang seorang pemimpin yang sangat licik,  dan tentu saja licin bagai belut yang berenang di dalam genangan minyak.  Dia memanfaatkan semua orang yang berada di sekelilingnya guna memperkuat posisinya sendiri.

Ketika menumbangkan Bung Karno, Suharto menggalang kekuatan militer, teknokrat pro-kapitalisme, dan ormas keagamaan, terutama umat Islam, untuk menghancurkan komunisme. 

Namun setelah berkuasa, umat Islam ditinggalkan. Suharto malah merangkul kekuatan salibis faksi Pater Beek SJ dan juga CSIS di mana Ali Moertopo menjadi sesepuhnya, dan kemudian di era 1980-an akan muncul tokoh sentral Islamophobia, murid Ali Moertopo, bernama Jenderal Leonardus Benny Moerdhani.

Dengan dukungan penuh terutama dari militer-tentu ada harga yang harus dibayarkan oleh Suharto, yakni memberii kek KKN kepada para perwiranya-maka kekuatan masyarakatl tiada ertinya. Siapa pun yang berseberangan dengannya, maka langsung dicap sebagai Anti Pancasila. Selama tempoh1970-awal 1980-an, tidak ada kekuatan awam yang bererti yang mampu menentang Suharto. Bayang-bayang pembunuhan massal yang dilakukan tenteranya Suharto pada akhir 1965 sampai awal 1966 menciptakan kezaliman tersendiri di dalam benak rakyatnya.

Nations and Character Building yang diperjuangkan para pendiri republik ini dalam sekejap dihancurkan oleh Suharto, dan digantikan denganExploitation de L’homee par L’homee, eksploitasi yang dilakukan kubu penguasa terhadap rakyat kecil. Patut digaris-bawahi jika eksploitasi ini terus dilakukan oleh para elit pemerintah dan juga elit parpol sampai hari ini. Tidak hairan jika sekarang ada yang berterus terang jika Suharto adalah gurunya. 

Catatan hitam tentang Suharto tidak berhenti sampai disini. Dalam penegakan Hak Asasi manusia (HAM) misalnya, rezim Orde Baru di tahun 1980-an sangat dikenal di luar negeri sebagai rezim fasis-militeristis, sebagaimana Jerman di bawah Hitler, Italia di bawah Mussolini, Kamboja di bawah Polpot, dan Chile di bawah Jenderal Augusto Pinochet. Ini ditegaskan Indonesianis asal Perancis, Francois Raillon.

Bahkan M.C.Ricklefs, sejarawan Australia, menyatakan jika penegakan HAM-nya rezim Suharto jauh lebih buruk ketimbang penguasa jajahan Belanda. “Pemerintahan Baru lebih banyak melakukan hukuman itu ketimbang pemerintah jajahan Belanda. Orde Baru mengizinkan penyiksaan terhadap narapidana politiknya. Sentralisasi kekuasaan ekonomi, politik, administrasi, dan militer di tangan segelintir elit dalam pemerintahan Suharto juga lebih besar daripada dalam masa pemerintahan Belanda,”

Catatan atas kejahatan HAM rezim Suharto akan dimulai dari wilayah paling timur negeri ini, yakni Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Kejahatan HAM atas Muslim Aceh dimulai  oleh VOC Belanda, diteruskan oleh rejim Pemerintahan Lama Soekarno, dan ditindas lebih kejam lagi di masa kekuasaan Suharto. 

Bahkan di zaman Jenderal Suharto-lah, NAD yang sangat berjasa dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI-terutama dari segi kewangan, sebab itu NAD juga disebut sebagai ‘Lombong Wang RI’-malah dijadikan lapangan tembak dengan nama Daerah Operasi Militer (DOM), 1989-1998.

NAD merupakan daerah yang sangat kaya dengan sumber daya alamnya, yakni minyak dan gas bumi. Sampai dengan akhir dekad 1980-an, Aceh telah menyumbang lebih dari 30% total produksi ekspor migas Indonesia. Pada 1971 di Aceh Utara ditemukan cadangan gas alam cair (LNG) yang sangat besar. Mobil Oil, perusahaan tambang AS, diberi hak untuk mengekploitasinya dan dalam enam tahun kemudian kompleks penyulingan KNG sudah beroperasi di dalam areal yang dinamakan Zona Industri Lhokseumauwe (ZIL). Di tempat yang sama, berabad lalu, di sinilah Kerajaan Islam pertama Samudera Pasai berdiri, dan kini oleh Suharto diserahkan kekayaan alam negeri ini yang sungguh besar kepada AS.

Sebelumnya, di Aceh Timur, dalam waktu 30 tahun sejak 1961, Asamera, suatu perusahaan minyak Kanada, telah menggali tak kurang dari 450 sumur minyak. Sumber gas alam yang ditemukan di sekitar sumur-sumur itu lebih kaya dari persediaan gas alam di Aceh Utara. Produksi Pabrik Pupuk ASEAN di Aceh hampir 90%  dieksport, dan dari kompleks petrokimia diharapkan penjualan kimia aromatik sebesar US$200 juta setahun. Pabrik Kertas Kraft Aceh juga sudah mulai memproduksi kertas karung semen sejak 1989. Dari penghematan import pembungkus semen saja pemerintah sudah memperoleh keuntungan US$89 juta setahun, sedang eksport kertas semen menghasilkan US$43 juta. Pada 1983 Aceh menyumbang 11 persen dari seluruh eksport  Indonesia.

Suharto sangat tahu jika kekayaan alam Aceh sungguh luar biasa. Sebab itu, dengan amat rakus rejim Pemerintahan Baru terus-menerus menguras kekayaan alam ini. Ironisnya, nyaris semua keuntungan yang diperoleh dari eksploitasi kekayaan alam Aceh ini dibawa kabur ke Jakarta. Rakyat Aceh tidak mendapatkan apa-apa. Mereka tetap tinggal dalam kemiskinan dan kemelaratan. Pemerintah Jakarta bukannya mengembalikan wang Aceh ke rakyat Aceh sebagai pemilik yang sah, tapi malah mengirim ribuan tentera untuk memerangi rakyat Aceh yang sudah tidak berdaya.

Dalam dekad 1990-an, dari 27 provinsi di Indonesia, Aceh menempatkan posisi provinsi ke-7 termiskin di seluruh Indonesia. Lebih dari 40 persen dari 5.643 desa di Aceh telah jatuh ke bawah garis kemiskinan. Hanya 10 persen pedesaan Aceh menikmati aliran listrik. Di kawasan ZIL hanya 20% penduduk yang mendapat saluran air bersih. Yang lain mendapat pasok air dari sumur galian yang sering tercemar oleh pembuangan kawasan industri. 

Peneliti AS, Tim Kell, dalam laporannya menulis, “Friksi dan perbenturan nilai pun terjadi antara penduduk asli dan pendatang. Para migran menenggak bir, berdansa-dansi, melambungkan harga-harga di pasar. Mereka hidup mewah di kolam kemiskinan rakyat Aceh. Limbah industri mencemari tanah dan masuk ke sumur-sumur penduduk asli. Polusi meluas ke laut, merusak lahan nelayan. Pengangguran meningkat. Pemiskinan berlanjut. Industrialisasi gagal merombak struktur perekonomian rakyat Aceh secara fundamental, karena ia memang tak pernah menjadi bagian dari perekonomian asli rakyat Aceh”. Inilah salah satu “hasil” pembangunan rejim Suharto di Aceh.

Secara objektif Tim Kell melanjutkan, “Pada tahun-tahun 1940-an para ulama PUSA sudah kecewa atas tak diterapkannya hukum Islam di seluruh Indonesia. 

Pada 1950, status Aceh sebagai provinsi dicabut dan dilebur ke dalam Provinsi Sumatera Utara. Pemerintahan awam, pertahanan, dan perekonomian, diambil dari ruang lingkup pengaruh PUSA. Kekecewaan atas perlakuan semacam ini, dan kecemasan akan kehilangan identitiya, membawa Aceh ke pemberontakan 1953 di bawah pimpinan Daud Beureueh.”

Di bawah rejim Suharto, Jenderal ini membawa ideologi pembangunan dan kestabilan politik, dan dengan kacamata kuda yang “sentralistik-Majapahit”, Suharto mengangap sama semua orang, semua daerah, semua suku, semua organisasi, termasuk Aceh. Suharto menganggap semuanya itu sama saja dengan “Majapahit”. 

Status “istimewa” sebagai negeri Islam Aceh pun dihapuskan.  Otonomi Aceh di bidang agama, pendidikan, dan hukum adat, sebagaimana tercantum dalam UU No.5/1974 tentang Dasar-Dasar Pemerintahan Daerah, pada kenyataannya keistimewaan Provinsi Aceh hanyalah di atas kertas. Gubernur dipilih hanya dengan persetujuan Suharto, Bupati hanya boleh mengambil dengan restu Golkar. Pelecehan Aceh terus berlanjutan.  

Aceh bahkan dianggap tak cukup terhormat untuk menjadi tuan rumah suatu Kodam. Komando Daerah Militer dipindahkan ke Medan.

Pada 1990, Gubernur Ibrahim Hasan yang notabene direstui Suharto mewajibkan semua murid sekolah dasar Islam untuk mampu membaca Al-Qur’an. Peraturan ini dikecam oleh para pejabat di Jakarta. 

Bahkan Depdikbud mengirim tim untuk menyelidiki “penyelewengan” ini. Beberapa bulan kemudian pejabat Dikbud kabupaten melonggarkan peraturan yang melarang murid perempuan memakai jilbab ke sekolah. 
Kepada murid yang ingin berjilbab diizinkan untuk menyimpang dari peraturan tersebut. Pemerintah Jakarta bertindak keras atas pelonggaran ini. Peraturan nasional harus dipatuhi secara nasional, tanpa kecuali. Dan jilbab diharamkan oleh rejim Suharto di Aceh.

 

Ted Robert Gurr dalam Why Men Rebel telah menulis bahawa rakyat akan memberontak jika way of life-nya terancam oleh perkembangan baru. Orang Aceh telah kehilangan sumber alamnya, mata pencariannya, gaya hidupnya. Orang Aceh kehilangan suaminya, anak-anaknya, kehilangan harapannya, kehilangan segalanya . . . 

Lalu masih adakah orang yang sangat-sangat bebal yang masih saja bertanya, “Mengapa rakyat Aceh memberontak ?” Rakyat Aceh jelas telah dijadikan perlindungan bagi rejim Pemerintahan Baru. Telah diperkosa habis-habisan oleh Jakarta. Siapa pun yang punya hati nurani jelas akan mendukung sikap rakyat Aceh yang menarik kembali kesediaannya bergabung dengan Republik Indonesia jika perkara  seperti ini terus dibiarkan. Kesabaran itu ada batasnya.  

Allah Taala berfirman:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآَيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (65) لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

“Dan jika kamu menyoal mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, kerana kamu telah kafir sesudah beriman.” (QS. At-Taubah 9: 65-66)

Dan kalau Kami kehendaki nescaya Kami tinggikan pangkatnya dengan (sebab mengamalkannya) ayat-ayat itu. Tetapi ia bermati-mati cenderong kepada dunia dan menurut hawa nafsunya; maka bandingan adalah seperti anjing, jika engkau menghalaunya: ia menghulurkan lidahnya termengah-mengah, dan jika engkau membiarkannya: ia juga menghulurkan lidahnya termengah-mengah. Demikianlah bandingan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu supaya mereka berfikir. 

Surah Al A’raf, Ayat 176

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s