HUBUNGAN AMALAN SIHIR TAMADUN AWAL MANUSIA DAN AMALAN SIHIR MASAKINI

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلا تَكْفُرْ

“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir), mereka mengajarkan sihir kepada manusia. Dan (Allah) tidak menurunkan (sihir) kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: ‘Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir’.” [QS. Al Baqarah: 102]

.

Sihir Era Sumeria dan Tsamud

Secara bahasa, sihir bermakna sesuatu yang sebabnya tersamar dan terselubung, serta mampu memalingkan penglihatan atau penginderaan dari hakikat yang sebenarnya. Kerana itu (secara bahasa) sihir kadang juga meliputi perkataan dan bahasa tubuh yang mempengaruhi fikiran, serta kecepatan tangan dan penggunaan alat yang mengalihkan perhatian mata. Namun sihir yang akan disentuh di dalam nukilan ini adalah sihir secara “istilah”, iaitu sihir yang menggunakan bantuan jin dan khadam.

Catatan tertua yang menyebutkan keberadaan penyihir adalah dataran tanah liat Sumeria yang mengisahkan perseteruan di antara Enmerkar (Namrud) dengan Ensuhgirana/Ensuhkeshdanna (Raja Kota Aratta). 

Setelah kota Hamazi ditaklukkan Enmerkar, seorang penyihir (Urgirinuna) Hamazi datang ke Aratta untuk membantu mengalahkan Enmerkar. Urgirinuna lalu dikirim ke Eresh/Uruk (ibukota pemerintahan Enmerkar) untuk misi merosak penternakan, namun ia dikalahkan penyihir perempuan Sagburu. Aratta akhirnya menyerah diri kepada Enmerkar.

Dalam Al Qur’an, perbuatan sihir sudah dikenal sejak masa nabi Shaleh (QS. Asy Syu’araa: 153). Nabi Shaleh hidup sesudah masa nabi Hud (termasuk hubungan nabi Hud dengan Namrud). Dalam Alkitab, tokoh yang serupa dengan nabi Shaleh adalah Shelah. 

Shelah merupakan keturunan Sam bin Nuh melalui jalur Arpachshad (Kitab Kejadian 10: 24). Keturunan Shelah adalah Eber, sedangkan keturunan Eber adalah Peleg dan Joktan (Qahtan). Peleg menjadi leluhur dari nabi Ibrahim, sedangkan Qahtan menjadi leluhur dari bangsa Arab.

Sekitar 2300 SM, bangsa Akkadia menggantikan peranan dominan bangsa Sumeria di Mesopotamia. Nama Akkadia berasal dari ibukota pemerintahan mereka, iaitu Akkad. Mereka yang pertama kali tercatat sebagai penutur rumpun bahasa Semit. Dalam QS. Al A’raaf: 74, disebutkan bahwa kaum nabi Shaleh (orang Tsamud) merupakan penguasa yang menggantikan kedudukan kaum ‘Aad. Dalam QS. Al Hijr: 80, disebutkan bahwa kaum Tsamud telah mendustakan rasul-rasul. Hal ini menunjukkan bahwa kaum Tsamud memiliki peradaban dengan lebih dari satu kota. Sehingga terdapat lebih dari satu rasul yang diutus pada mereka (dalam kurun waktu berbeza). Agaknya kenapa dengan kaum Tsamud ni sampai perlu lebih daripada satu rasul?

Reruntuhan Mada’in Shaleh (https://en.wikipedia.org)
Reruntuhan Mada’in Shaleh (https://en.wikipedia.org)

Akkadia memiliki wilayah kekuasaan yang luas, serta mencakup pula bagian timur dan utara jazirah Arab. Imam Ahmad meriwayatkan hadits yang menyebutkan bahawa pada tahun terjadinya perang Tabuk, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam sempat singgah di salah satu bekas wilayah kekuasaan kaum Tsamud, di utara jazirah Arab. Tempat tersebut saat ini dinamakan Mada’in Shaleh, di wilayah al-‘Ula, Arab Saudi. 

Setelah ditinggalkan kaum Tsamud, Mada’in Saleh kemudian dihuni bangsa Lihyan (Dedan) serta Nabatea.

.

Sihir dalam kalangan Masyarakat Yahudi

Orang Yahudi telah mengenal sihir sejak masih berada di Mesir. Nabi Musa sempat terlibat pertarungan melawan tukang-tukang sihir Mesir (QS. Thaahaa: 57 – 69). Saat hijrah ke tanah Kanaan, bangsa Yahudi kembali bertemu penduduk setempat yang terbiasa dengan perbuatan sihir (Kitab Ulangan 18: 9 – 14). Nabi Musa telah mengingatkan masyarakat Yahudi agar tidak meniru adat istiadat bangsa Kanaan yang meminta nasihat daripada peramal dan tukang tilik (Kitab Imamat 20: 6). Kitab Imamat 20: 27 mengancam dengan hukuman rejam bagi orang yang berhubungan dengan roh-roh (jin atau khadam).

Namun sebahagian masyarakat Yahudi kemudian mengikuti perbuatan sihir yang dilakukan bangsa Kanaan, di antaranya adalah raja Joram (Kerajaan Bani Israel) serta raja Manasseh (Kerajaan Awal Yahudi).

Kitab 2 Raja-raja 9: 22 – 24 menyebutkan bahwa Joram (bertakhta di era 849 – 842 SM) menghalalkan perbuatan sihir akibat pengaruh ibunya, Jezebel (putri bangsa Phoenicia). Joram akhirnya dibunuh oleh panglima Jehu atas perintah nabi Ilyasa (Elisha). Sedangkan Manasseh pula (bertakhta 687 – 643 SM) dalam Kitab 2 Raja-raja 21: 6 – 7 disebutkan telah menyembah berhala bangsa Kanaan, melakukan ramalan dan berhubungan dengan roh (jin), serta mempersembahkan anaknya sebagai korban dalam api. Kitab 2 Tawarikh 33: 11 – 13 ada menyebutkan bahawa Tuhan kemudian menghukum Manasseh melalui bangsa Assyria.

Orang Yahudi yang menghalalkan sihir (disebut sebagai syaitan-syaitan dalam QS. Al Baqarah: 102), melakukan pembenaran dengan menuduh bahwa nabi Sulaiman juga melakukan sihir. Kata “maa tatluu” (apa yang dibaca) berarti cara tafsir mereka terhadap yang terjadi di masa nabi Sulaiman. Allah Ta’ala memberi nabi Sulaiman kuasa untuk memerintah jin, burung, dan angin (QS. Saba: 12 dan QS. An Naml: 17). Kekuasaan atas jin tersebut kemudian ditafsirkan sebagai perbuatan sihir. Padahal kekuasaan tersebut merupakan kekhususan untuk nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman pun telah berdoa agar kekuasaan tersebut tidak dimiliki oleh seorang pun sesudah dirinya (QS. Shaad: 35).

Sihir merupakan dosa yang dapat menimbulkan kekafiran. Sehingga saat mereka menuduh nabi Sulaiman melakukan sihir, sama artinya dengan menuduh nabi Sulaiman telah menjadi kafir. 

Mereka juga menguatkan tuduhannya berdasarkan perbuatan nabi Sulaiman yang menikahi perempuan asing (non-Israel). Mereka menafsirkan bahawa pernikahan tersebut telah mencondongkan hati nabi Sulaiman kepada tuhan-tuhan lain (syirik yang dapat menimbulkan kekafiran). Penafsiran tersebut dapat dilihat pada Kitab 1 Raja-raja 11: 1 – 10.

Para pelaku sihir hingga hari ini masih menganggap nabi Sulaiman sebagai penyihir. Pada 1099 M, saat pasukan Salib menduduki Jerusalem, Ksatria Templar menjadikan Masjidil Aqsa sebagai markasnya dan berusaha mencari buku sihir nabi Sulaiman di dalam batu berongga (Shakhrah). 

Sekitar abad ke-14 M, di Italia beredar buku “Clavicula Salomonis” (Kunci Sulaiman) yang dianggap sebagai buku sihir nabi Sulaiman. Gerakan Freemasonry yang muncul sekitar abad ke-17 M, juga mengaitkan pengetahuan rahsia mereka dengan artifak dan kitab Kuil Sulaiman.

.

Harut dan Marut

Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya berpendapat bahwa kata “maa” dalam “wa maa unzila ‘alaa malakaini” (QS. Al Baqarah: 102) merupakan maa naafiyatun (maa yang meniadakan). Sehingga kalimat tersebut dibaca: “Dan (Allah) tidak menurunkan (sihir) kepada dua orang malaikat.” Muhammad Al-Thahir Ibn ‘Asyur (1879 – 1973 M) dalam kitab tafsirnya “al-Tahrir wa al-Tanwir” berpendapat bahwa dua orang malaikat (Harut dan Marut) tersebut adalah orang shaleh yang sangat dihormati masyarakat. Saat Harut dan Marut wafat, orang-orang kemudian berpendapat bahawa kerana keshalehannnya, maka mereka diangkat ke langit dan dijadikan malaikat oleh Tuhan.

Ibn ‘Asyur mengatakan bahawa Harut merupakan nama perempuan, sedangkan Marut merupakan nama laki-laki. Dalam bahasa Akkadia, Marut disebut Ma-ru-tu-uk. Orang Yahudi menyebutnya Merodach. Sedangkan sejarawan Barat menyebutnya Marduk. Isteri Marduk adalah Haruru. Marduk dianggap sebagai pelindung kota Babylon di Mesopotamia selatan. 

Babylon dibangun pada masa kekuasaan raja Akkadia, Sargon (sekitar abad ke-23 SM), sebagai kota pelabuhan di sungai Eufrat. Orang Babylon menyebut planet Jupiter sebagai bintang Marduk, sedangkan planet Venus sebagai bintang Haruru.

Lokasi kota Babylon (http://mesopotamia.mrdonn.org)
Lokasi kota Babylon (http://mesopotamia.mrdonn.org)

Sekitar 2000 SM, bangsa Amorite menguasai Mesopotamia selatan. Mereka adalah bangsa nomad dari Syria, dan termasuk keturunan Kanaan bin Ham bin Nuh (Kitab Kejadian 10: 16). Hammurabi (raja Amorite di Babylon) kemudian berhasil menguasai Mesopotamia dan mendirikan Kerajaan Babylonia (sekitar 1800 SM). Berkuasanya Babylonia atas Mesopotamia, turut meninggikan kedudukan Marduk. 

Dalam pembukaan Codex Hammurabi (prasasti yang memuat aturan hukum Hammurabi), disebutkan bahawa Marduk telah diberikan mandat oleh dewa utama Sumeria, yaitu Anu, untuk mengatur umat manusia.

Setelah kematian Hammurabi, Kerajaan Babylonia (Dinasti 1) telah mengalami kemunduran. Bangsa Assyria kembali berkuasa di Mesopotamia utara, raja-raja Sealand (Dinasti 2) menguasai Mesopotamia selatan, sementara bangsa Elam berkuasa di Mesopotamia timur. 

Bangsa Kassite (dari Zagros) akhirnya menguasai Babylon pada 1531 SM. Kassite (Dinasti 3) pada 1155 SM dikalahkan oleh bangsa Assyria dan Elam. Orang Babylon kemudian membentuk pemerintahan sendiri (Dinasti 4).

Kedudukan Marduk kembali ditinggikan pada masa Dinasti 4 Babylon. Saat pemerintahan raja Nebuchadnezzar I (bertahta 1125 – 1104 SM), disusun Enûma Eliš (Kisah Penciptaan Dunia) dalam tujuh lempeng tanah liat. Melalui Enûma Eliš, Marduk dimasukkan dalam keluarga dewa-dewa Mesopotamia, dan menggantikan posisi Asalluhi sebagai anak dewa Enki. Enki adalah dewa Sumeria (orang Akkadia menyebutnya dewa Ea) yang menjadi pelindung kota suci Eridu. Sebagian orang Mesopotamia sudah menyebut planet Venus sebagai bintang dewi Ishtar. Sehingga orang Babylon kemudian melambangkan Haruru dengan saat terbitnya bulan.

Sekitar abad ke-11 SM, bangsa Aramea, Sutea, dan Chaldea (abad ke-9 SM) melakukan migrasi dari wilayah timur Mediterania dan menguasai Mesopotamia selatan. Pada 911 SM, bangsa Assyria berhasil menyatukan kembali wilayah Mesopotamia. Raja Assyria, Sennacherib (bertahta 705 – 681 SM), menyerang Babylon pada 689 SM dan menghancurkan kuil dewa-dewa Babylon. Pada 626 SM, bangsa Chaldea (Kaldani) berkuasa di Babylon. Mereka dan bangsa-bangsa sekutunya pada 612 SM berhasil mengalahkan Kerajaan Assyria yang sudah mengalami perpecahan.

Bangsa Chaldea membangun kembali kuil dewa Babylon. Mereka mendirikan Kerajaan Babylonia, dimana Kerajaan Yahudi menjadi negara bawahannya. Pada 589 SM, Yahudi semakin memberontak sehingga Babylonia telah menghancurkan Jerusalem dan mengasingkan penduduknya. 

Saat diasingkan ke Babylon, bangsa Yahudi melihat perbuatan sihir yang dilakukan orang Babylon. Orang Babylon disebut sebagai kaum yang menggunakan sihir untuk menyesatkan bangsa lain (Kitab Wahyu 18: 23). Pengetahuan sihir orang Babylon disebut Bārûtu, dan meliputi ramalan serta pengendalian roh (jin dan khadam). Orang Babylon juga menempatkan Marduk sebagai dewa yang menguasai sihir, badai, dan kesuburan tanah.

Pada 539 SM, Alexander (Cyrus, pendiri kekaisaran Achaemenid) mengalahkan Babylonia. Cyrus tidak memaksa penduduk wilayah yang dikuasainya untuk menganut ajaran Zoroaster. Penduduk Babylon memuji kebijaksanaan Cyrus, mereka membuat silinder tanah liat (Cyrus Cylinder) untuk menyambut penguasa baru tersebut.

Silinder tersebut tidak dibuat oleh bangsa Persia (Achaemenid), melainkan oleh orang Babylon. Cyrus Cylinder ditemukan di reruntuhan kota Babylon dan ditulis dengan huruf paku Akkadia. Sedangkan bangsa Persia menggunakan huruf paku (cunieform) yang berbeza, yaitu huruf paku Persia Lama. Pujian terhadap penguasa baru melalui silinder tanah liat merupakan tradisi orang Babylon. 

Saat Marduk-apla-iddina II (Merodach-Baladan) berkuasa di Babylon pada 722 SM, ia membuat silinder tanah liat yang memuji kepemimpinannya. Begitu pula pada saat Nabonidus berkuasa di Babylon pada 556 SM.

Di masa kekuasaan Persia, pemujaan terhadap Marduk mengalami penurunan. Pada 330 SM, orang Yunani menguasai Babylon. Mereka kerap mendorong pembauran budaya Yunani (Hellenisme) sehingga menimbulkan sinkretisme (percampuran) antara politeisme Babylon dengan politeisme Yunani. Pada 247 SM, bangsa Persia mendirikan Kerajaan Parthia. Mereka kemudian berhasil mengalahkan orang Yunani (Kerajaan Seleucid) dan menguasai Mesopotamia. Pemujaan terhadap Marduk semakin menurun dan akhirnya hilang di masa kekuasaan Kerajaan Sasanid.

.

Hakikat Sihir

Penyembahan berhala pada mulanya tidak dilakukan untuk menyembah syaitan, melainkan untuk menghormati orang shaleh. Berhala pertama kali disembah di masa nabi Nuh. 

Ibnu Katsir di dalam kitab tafsirnya ada mengatakan bahawa berhala-berhala kaum nabi Nuh (QS. Nuh: 23) merupakan patung orang-orang shaleh. Setelah mereka wafat, orang-orang lalu membuat patung untuk mengingat jasa mereka. Namun akhirnya patung-patung tersebut disembah dan menjadi berhala. Pola ini pun terulang kembali pada Harut dan Marut.

Sihir sudah ada sebelum masa Harut dan Marut. Di masa itu, syariat sudah melarang melakukan sihir, namun belum dilarang untuk mempelajarinya (syariat di masa selanjutnya melarang untuk melakukan maupun mempelajari sihir). 

Harut dan Marut memberitahukan hakikat sihir untuk menunjukkan kelemahannya. Mereka juga mengingatkan bahawa pengetahuan sihir tersebut merupakan cubaan dan dapat menimbulkan kekafiran. Setelah mereka wafat, orang-orang menyalahgunakan pengetahuan sihir tersebut. Harut dan Marut pun dijadikan berhala, diposisikan sebagai anak dewa tertinggi Mesopotamia yang mampu mengendalikan kekuatan alam (badai dan kesuburan tanah).

Jin dan manusia hidup dalam alam yang berbeza, dan dilarang untuk berhubungan sewenang-wenangnya. Namun syaitan dari golongan jin melakukan kerjasama dengan syaitan dari golongan manusia (QS. Al An’aam: 112). 

Sebelum diutusnya nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rasul, sebahagian jin telah mencuba mengetahui rahsia langit (QS. Al Jin: 8 – 10). Hanya sedikit berita langit (percakapan malaikat) yang boleh mereka perolehi. Sedikit berita tersebut dijadikan bahan ramalan untuk manusia di bumi. Manusia yang menerimanya kemudian menganggap jin lebih kuat dari manusia. Mereka pun mulai meminta perlindungan kepada jin (QS. Al Jin: 6).

Jin diciptakan dari api yang sangat panas (QS. Al Hijr: 27). Nyala api merupakan zat yang mirip dengan udara, iaitu tembus pandang (misalnya api metanol) dan dapat memasuki celah benda padat. Itulah sebab mengapa jin memiliki sifat tembus pandang (tidak berwarna) dan dapat memasuki celah benda padat. Walaupun terbuat dari api, namun jin tetap dapat disakiti oleh api (neraka), sebagaimana manusia yang terbuat dari tanah tetap akan sakit jika dihantam tanah.

Api berbeda dengan cahaya. Api berasal dari pelepasan tenaga suatu zat material atau jasad yang terjadi secara cepat. Sehingga jin masih memerlukan tenaga yang berasal dari zat material. Sedangkan cahaya pula berasal dari pancaran tenaga. Sehingga malaikat hanya memerlukan zat tenaga sahaja, dan tidak memerlukan zat material. 

Dalam hadits riwayat Muslim dan Tirmidzi disebutkan bahawa di antara makanan jin adalah tulang serta kotoran/tahi haiwan dan manusia. Jin tidak memakan material dari tulang dan kotoran tersebut. Namun mereka memakan pelepasan tenaga dari benda-benda tersebut.

Al Nafs (diri seorang manusia seutuhnya) terdiri atas unsur jasmani (material) dan rohani (tenaga). Unsur rohani (tenaga) manusia di antaranya disebutkan dalam hadits berikut:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ فَإِنْ زَادَ زَادَتْ فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَهُ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ { كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ }

“Sesungguhnya apabila seorang mukmin berbuat dosa, maka akan ada titik hitam di dalam hatinya. Jika ia bertaubat, meninggalkannya serta meminta ampun, maka hatinya akan kembali putih. Namun jika ia menambah (dosanya) maka akan bertambah (titik hitam), dan itulah penutup (hati) yang di sebutkan dalam firman Allah dalam kitab-Nya; ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’ (QS Al Muthafifin: 14).” [HR. Ibnu Majah]

Secara jasmani (material), hati (jantung) tidak mendapat titik hitam saat melakukan perbuatan dosa. Namun secara rohani (tenaga), hati nurani yang akan mendapat titik hitam. Titik-titik hitam tersebut merupakan tenaga negatif. Saat manusia meminta perlindungan kepada jin, maka manusia telah memberikan kekuatan pada jin. Kekuatan tersebut berasal dari tenaga negatif manusia, dan kekuatan itulah yang kemudian menghasilkan sihir.

Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Dawud, disebutkan bahawa seorang sahabat pernah membonceng Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu tiba-tiba untanya terpeleset sehingga sahabat tersebut berkata: “Celaka syaitan!” Nabi kemudian bersabda: “Jangan engkau katakan ‘celaka syaitan’, karena syaitan akan menjadi besar sehingga sebesar rumah. Dan syaitan akan berkata: ‘Itu terjadi kerana kekuatanku’.” Nabi melanjutkan: “Kerana itu katakanlah ‘Bismillah’, maka syaitan akan menjadi kecil sehingga sebesar lalat.”

Hadits ini menunjukkan bahawa kemarahan merupakan salah satu energi negatif manusia yang dapat memberi kekuatan kepada syaitan dari golongan jin.

Wahid Abdussalam Bali dalam bukunya “Sihir dan Gangguan Jin, Dan Pengobatannya Secara Islami” mengatakan bahwa ada beberapa perasaan yang boleh menjadi awal dari dikuasainya tubuh manusia oleh jin (kerasukan), iaitu takut, sedih, marah, dan syahwat. Hal ini menunjukkan bahawa perasaan-perasaan tersebut merupakan energi negatif manusia yang dapat dimanfaatkan oleh jin. 

Takut, sedih, marah, dan syahwat, pada dasarnya adalah perasaan netral yang dapat menjadi positif maupun negatif. Takut dan sedih menjadi negatif saat diiringi perasaan putus asa. Sedangkan marah dan syahwat menjadi negatif saat dikeluarkan tanpa ada keinginan untuk bertanggung jawab.

Jin dan manusia diciptakan untuk mengabdi kepada Allah Ta’ala (QS. Adz Dzaariyaat: 56). Jin adalah umat seperti manusia, terdiri atas berbagai suku, ada yang baik dan ada yang jahat (QS. Al Jin: 11), ada yang mukmin dan ada yang kafir, agama mereka pun berbeza-beza sama seperti manusia. Dalam QS. Saba: 14, disebutkan bahwa jin tidak mengetahui wafatnya nabi Sulaiman. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa jin juga tidak mengetahui perkara ghaib. Sebagian jin mengganggu manusia, lebih disebabkan oleh keinginan mereka untuk mendapatkan tenaga negatif manusia.

Jin yang menjadi Qarin (syaitan pendamping) manusia, membisikkan was-was dan dorongan kejahatan ke dalam hati manusia (QS. An Naas: 4 – 5), juga mendapatkan tenaga negatif dari perbuatan jahat yang dilakukan manusia. Jin yang menjadi khadam manusia (umumnya dalam bentuk saka), mendapat manfaat tambahan selain dari memperoleh tenaga negatif manusia. Iaitu ketika manusia tersebut melakukan amalan dan pantangan tertentu untuk menjaga jin agar tetap menjadi khadamnya.

Penyakit ‘Ain merupakan bentuk lain dari pengambilan tenaga manusia oleh jin.

اَلْعَيْنُ حَقٌّ وَيَحْضُرُهَا الشَّيْطَانُ وَحَسَدُ ابْنُ آدَمَ

“(Penyakit yang ditimbulkan oleh) mata adalah benar adanya, yang dimulai oleh syaitan dan sifat dengki anak Adam.”

Permulaan lafaz hadits di atas اَلْعَيْنُ حَقٌّ adalah riwayat Bukhari. Dan lafaz الشَّيْطَانُ وَحَسَدُ ابْنُ آدَم diriwayatkan oleh Ahmad dalam kitabnya Al-Musnad. Al-Haitsami mengatakan: “Diriwayatkan oleh Ahmad dan perawinya adalah perawi yang shahih.”

Sebahagian manusia memiliki tenaga rohani yang lebih kuat daripada manusia lainnya. Sebagian jin mampu memanfaatkan keadaan tersebut. Ketika manusia tersebut mengeluarkan hasad (dengki) kepada orang lain, maka akan keluar tenaga negatif yang memberi kekuatan pada jin yang mengikutinya. Tenaga negatif tersebut seperti ruang hampa yang menghisap tenaga manusia korban hasad. Salah satu cara menyembuhkan penyakit ‘Ain adalah dengan menyiramkan air bekas (memindahkan bau) manusia pelaku hasad kepada korban hasad. Sehingga jin tidak dapat menghisap tenaga kerana korban hasad telah memiliki bau dari pemilik tenaga yang memberi jin kekuatan.

Sedangkan sihir, umumnya memiliki dua bentuk. Pertama, sihir mempengaruhi perasaan manusia. Kedua, sihir yang secara sementara mengubah material menjadi tenaga atau tenaga menjadi material. 

Sihir jenis pertama contohnya adalah sihir untuk mengacaukan fikiran, perceraian, serta pelet (mahabbah). Sedangkan sihir jenis kedua contohnya adalah memasukkan benda berbahaya ke dalam tubuh manusia (santau), menambahkan tenaga (jin) kepada suatu material sehingga (secara sementara) material tersebut berubah wujud (misalnya tali menjadi ular), serta jin mengubah sebahagian wujud tenaganya menjadi material untuk menimbulkan penyakit di dalam tubuh manusia.

Posisi benda langit juga dapat memperkuat pengaruh sihir pada manusia, contohnya adalah saat bulan purnama. Gravitasi bulan purnama yang mempengaruhi ketinggian air laut, juga dapat mempengaruhi perasaan manusia. 

Perasaan manusia pada dasarnya mudah untuk naik turun. Seperti muzik sedih yang dapat membuat perasaan manusia ikut menjadi sedih. Gravitasi bulan pun dapat menaikkan perasaan marah atau syahwat manusia. Tenaga negatif dari perasaan sedih, marah, dan syahwat tersebut akan menambah kekuatan jin dalam kerja-kerja menghantarkan sihir. Tukang sihir sendiri harus melakukan kemaksiatan untuk memperkuat tenaga negatif yang ia keluarkan.

Pada masa era nabi Sulaiman, sudah ada manusia yang mampu mengubah material menjadi energi (hanya sementara) untuk kemudian diubah lagi menjadi material. Iaitu saat memindahkan singgahsana ratu Balqis. Manusia tersebut melakukannya tanpa sihir, dan bahkan dapat mengalahkan kemampuan jin Ifrit (QS. An Naml: 38 – 40).

Saat ini manusia baru mampu mengubah tenaga menjadi material, iaitu dalam bentuk memindahkan informasi material dengan menggunakan perantara tenaga. Inilah yang selalunya kita panggil sebagai ilmu teknologi dan sains.

Misalnya ketika manusia membuat rancangan gambar pada suatu komputer, lalu data rancangan tersebut dipindahkan melalui jaringan kabel ke komputer lain yang terhubung dengan printer, sehingga rancangan tersebut dapat dicetak. Jaringan kabel kemudian boleh juga menggunakan gelombang elektromagnetik, sedangkan gelombang elektromagnetik merupakan salah satu bentuk tenaga. Sehingga pencetakan oleh printer tersebut, sejatinya adalah penyusunan ulang material berdasarkan informasi yang diterima dalam bentuk tenaga.

Sekian dulu. Semoga bermanfaat difikir-fikirkan.

Allahu’alam…

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s