KARMA dan NASIB DARIPADA KACA MATA BUDDHISM

CARA YANG MUDAH & SATU-SATUYA CARA UNTUK MENGUBAH NASIB:

Banyak sekali orang yang pada saat mengalami hambatan dalam hidup… perniagaan rugi, kehancuran rumah tangga, gangguan kesihatan dan banyak lagi kesulitan-kesulitan lain. Selalunya apa yang kita buat bila hal-hal ini berlaku?

Apabila kerap ditimpa malang, ramai di antara kita yang pergi mencari orang-orang tertentu untuk meminta nasihat atau meramal nasib. Apabila diberitahu nasibnya akan menjadi baik tidak lama lagi, mereka pun pulang dengan senang hati tetapi kalau ramalannya buruk maka mereka akan pulang dengan wajah yang kusam dan hati yang sedih.

Manusia di dunia ini bermacam-macam, ada yang selalu naik daun ada juga yang selalu jatuh. Sebahagian kita merasakan bahawa manusia di dunia ini benar-benar diatur oleh takdir dan nasib. Segala perolehan dan kehilangan harta dan kedudukan, gembira dan sedih, pertemuan dan perpisahan semuanya tidak lepas dari pengaturan nasib. Banyak sekali orang yang mencuba untuk mengubah nasibnya tapi kebanyakan mereka tidak mengerti caranya sehingga akhirnya mereka hampa. Mereka yang datang meramal dan nasibnya kurang bagus, selalu bertanya apakah ada cara untuk mengubahnya. 
JAWAPANNYA… “ADA!!!”

Bagaimana caranya? Mahu menjawab pertanyaan ini, kita harus mengerti dulu: Apa yang menyebabkan timbulnya nasib yang baik dan buruk serta siapa yang mengatur itu semua.

(1) BAGAIMANA TERJADINYA NASIB BAIK DAN BURUK

Ada orang kata bahawa begitu bayi lahir nasibnya sudah digariskan dan telah ditentukan. Maka peramal nasib mampu mengatakan nasib seseorang dari tarikh lahir dan jam lahirnya. Manusia di dunia ada yang kaya, yang miskin, yang enak, yang sengsara. Apakah hal ini dewa yang menentukan nasib kita tidak adil? 

Orang yang nasibnya buruk sering memandang langit dan bertanya: Kenapa orang lain boleh bertambah makmur sedang saya bernasib begitu buruk ?

Orang yang perkawinannya hancur sering bertanya: Kenapa orang lain rumah tangganya boleh begitu harmoni, sedangkan saya tidak begitu?

Sering kita membaca surat khabar atau menonton berita di TV mengenai peristiwa buruk yang berlaku. Kita lalu berfikir… kenapa orang itu boleh mempunyai nasib yang begitu buruk?

Para peramal biasanya menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan mengatakan bahawa hal itu disebabkan tarikh lahir dan jam lahirnya yang kurang bagus.

Tetapi kenapa tidak ada orang yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut:

Kenapa manusia lahir ada yang tarikh lahir dan jam lahirnya bagus, ada pula yang tidak bagus. Apakah Thian (istilah untuk Langit atau Tuhan ) begitu tidak adil?

Mahu menyelidiki atau mendalami tentang sumber dari nasib kita harus mengerti dulu mengenai “sebab-akibat tiga zaman” dan nasib mempunyai hubungan apa dengannya?

Ternyata dasar daripada nasib seseorang ditentukan oleh “sebab” dan “akibat”. 

“Sebab-akibat tiga zaman” mempunyai makna bahawa kerana perbuatan kita pada kehidupan yang lampau maka kita menerima akibat dari perbuatan tersebut pada kehidupan sekarang, demikian juga kehidupan kita yang akan datang ditentukan oleh perbuatan kita yang sekarang. 

Demikianlah pusingan sebab-akibat akan menciptakan masa lampau, masa kini, dan masa mendatang. Dalam ajaran agama Buddha ada istilah yang terkenal iaitu:
“Ingin mengetahui perbuatan kita di masa lampau, lihatlah kehidupan yang sekarang. Ingin mengetahui kehidupan kita di masa akan datang, lihatlah perbuatan kita sekarang”.

Ertinya :
Pada kehidupan lampau, kita telah menanamkan suatu perbuatan maka pada kehidupan yang sekarang kita akan memetik hasilnya. Demikianlah juga pada masa sekarang kita melakukan suatu perbuatan, maka kita akan memetik hasilnya pada masa akan datang.

Berikut adalah apa yang dikatakan sebagai Karma:

(1) Di dunia ini lelaki dan wanita yang mempunyai hati yang busuk… misalnya, sering membunuh binatang tanpa perasaan sedih dan menyesal. Membunuh secara langsung atau tidak langsung, sama saja berbuat dosa. Sesudah mati akan masuk neraka dan menerima hukuman di neraka. Setelah menjalani hukuman di neraka, akan dilahirkan kembali ke dunia tetapi akan berumur pendek atau berpenyakit atau bermasalah kesihatan lain.

(2) Di dunia ini lelaki dan wanita yang berbudi luhur, tidak membunuh binatang bernyawa baik secara langsung mahu pun tidak langsung, setelah meninggal akan menikmati hidup senang di alam akhirat. Pada waktu dilahirkan kembali akan menikmati panjang umur.

(3) Di dunia ini lelaki dan wanita yang sering menggunakan kayu untuk memukul atau menyiksa binatang atau melukai orang lain, setelah meninggal akan mengalami hukuman di neraka dan setelah dilahirkan kembali akan mendapat banyak penyakit dan masalah lain.

(4) Di dunia ini lelaki dan wanita yang sering membenci atau marah, setelah dilahirkan kembali akan bermuka hodoh dan tidak cun.

(5) Di dunia ini lelaki dan wanita yang kalau melihat orang lain beruntung atau berhasil lalu menggunakan kemampuan sendiri untuk menghalangi mereka supaya tidak berhasil, setelah meninggal akan mengalami hukuman di neraka dan setelah dilahirkan kembali setiap keinginan selalu gagal atau banyak halangan.

(6) Di dunia ini lelaki dan wanita yang seharusnya menghormati seseorang tapi tidak menghormatinya, seharusnya merawat seseorang tapi tidak merawat dan selalu bersikap sombong maka setelah meninggal akan mengalami hukuman di neraka dan setelah dilahirkan kembali akan menjadi orang hina dina dan tidak di hormati.

(7) Sebaliknya lelaku dan wanita di dunia ini bila selalu menghormati orang yang patut dihormati dan tidak pernah sombong, setelah meninggal akan hidup senang di alam akhirat dan setelah dilahirkan kembali akan menjadi orang yang selalu dihormati dan disegani baik di kalangan kawan mahu pun lawan.

(8) Di dunia ini lelaki dan wanita kalau terlalu pelit dan tidak pernah mengeluarkan wang untuk menolong orang miskin, juga tidak mahu menyumbang ubat-ibatan kepada orang miskin yang sedang sakit atau selalu bernafsu serakah memanipulasi harta orang lain maka setelah meninggal dunia akan dihukum di neraka dan setelah dilahirkan kembali akan menjadi orang miskin dan hina.

(9) Di dunia ini lelaki dan wanita kalau hidupnya tidak kedekut atau bakhil malah sering pula menyediakan dana untuk menolong orang miskin dan menyediakan ubat-ubatan untuk menolong mereka yang sedang sakit-sakit, maka setelah meninggal dunia akan hidup senang di alam akhirat dan setelah dilahirkan kembali akan menjadi orang kaya dan dipandang tinggi.

Contoh-contoh di atas hanya sebahagian kecil saja dari petikan ajaran di kitab suci Buddha. Dari contoh tersebut kita boleh mengetahui prinsip sebab-akibat kebajikan dan kejahatan, iaitu : Menanam benih tembikai akan menghasilkan buah tembikai, menanam biji kacang akanberbuah kacang.

Prinsip sebab-akibat sangatlah adil dan siapa yang berbuat dia yang akan menanggung akibatnya.

Di samping contoh di atas, masih ada lagi aturan pusingan roda sebab-akibat yang lebih rumit. Misalnya saling balas dendam adalah contoh pusingan roda yang bersifat balas dendam… demikian juga saling balas budi adalah contoh pusingan roda sebab-akibat.

Banyak juga sebab-akibat yang dibalas pada satu masa. 

Misalnya, pada masa kehidupan yang sekarang banyak berbuat baik dan balasannya terjadi pada masa sekarang juga. Tetapi banyak juga yang dibalas setelah beberapa kali dilahirkan kembali ke dunia. Itu semua bergantung kepada sedikit atau banyaknya kebajikan atau kejahatan yang pernah dia lakukan.

(2) SIAPAKAH YANG MENENTUKAN NASIB KITA? APAKAH PRINSIP UNTUK MENGUBAH NASIB KITA?

Siapakah sebenarnya penentu nasib kita untuk menjadi kaya, miskin, berkedudukan, hina dina ?

Padahal pada prinsip sebab-akibat sudah dijelaskan bahwa penentu nasib kita bukan orang lain tapi diri kita sendiri. Oleh karena itu nasib kita pada kehidupan yang ada sekarang ini ditentukan oleh perbuatan kita pada kehidupan kita yang lampau.

Ramai orang bertanya:  ”Saya sudah banyak sekali berbuat amal, banyak membantu orang tapi malah kenapa banyak orang membenci saya ?”

Banyak juga orang bertanya; “Saya sudah banyak berbuat amal tapi kenapa hidup saya banyak mendapat halangan sedangkan orang lain yang berhati buduk malahan bertambah  berjaya pula?”

Sebenarnya apa yang dilakukannya sekarang tidak harus mendapat balasan begitu cepat, ada yang mendapat balasannya di hari tua, tapi sebahagian besar mendapat balasannya sesudah mereka dilahirkan kembali di masa mendatang. 

Sedangkan apa yang mereka dapatkan sekarang, sebahagian besar adalah hasil perbuatan mereka di masa lampau. Pada kekehidupan kita sekarang banyak berbuat tapi selalu hidupnya sengsara, banyak halangan. Ini semua dek kerana hutang dosa kita pada kehidupan masa lampau yang harus dibayar pada kehidupan yang sekarang. Setelah hutang-hutang ini terbayar barulah kita boleh menikmati hasil perbuatan baik kita.

Pada kehidupan yang sekarang hidupnya sangat jaya, itu adalah hasil dari perbuatan baik kita pada masa lampau. Setelah hutang ini terbayar barulah kita akan dihukum karena dosa-dosa kita pada masa sekarang.

Kalau hutang kita pada masa lampau sangat berat, maka pembayaran hutang pada masa kini sangat panjang. Jika sebaliknya pula… maka pembayaran hutang akan lebih pendek. Hal ini sangatlah adil.

Oleh keraa itu, waktu untuk mendapatkan balasan dari perbuatan baik dan buruk kita tidaklah sama. Ada yang baru beberapa tahun sudah kelihatan balasannya, ada yang sepuluh tahun atau puluhan tahun, ada yang dibalas sesudah dilahirkan beberapa kali.

Jangan lupa pada bahagian terpenting dari hukum pusingan roda: Orang yang menanam dosa terlalu banyak, kerana hutangnya terlalu berat maka orang yang demikian waktu dilahirkan kembali mungkin akan menjadi binatang dan mungkin harus dilahirkan beberapa kali sebagai binatang barulah bisa lahir kembali sebagai manusia. (Ini lebih jelas lagi pada “tumimbal lahir”). 

Hukum pusingan roda untuk balasan kebaikan dan keburukan mempunyai gejala saling mempengaruhi. 

Misalnya: Pada kehidupan yang lampau banyak menanam kebajikan, pada kehidupan yang sekarang seharusnya dapat menikmati hasil kebajikan kita selama sepuluh tahun, tapi kerana pada kehidupan sekarang banyak melakukan dosa maka waktu untuk boleh menikmati hasil kebajikan kita akan berkurang beberapa tahun. Demikian juga sebaliknya, bila kita banyak melakukan kebajikan pada kehidupan yang sekarang, maka ini boleh mengurangi masa hukuman dari dosa-dosa yang pernah kita lakukan di masa lampau.

Ilmu hitung “Pengurangan dan penambahan” berlaku di sini tergantung kepada mana lebih berat antara dosa dan kebajikan kita maka kita akan menikmati hasilnya. Inilah yang kita sebut: Nasib kita yang menentukan. Pokok pangkalnya adalah kita yang minta. Ini juga prinsip untuk mengubah nasib kita yang buruk.

Bila seseorang pada kehidupan yang lampau dengan sengaja ataupun tidak sengaja telah menentukan nasib buruknya pada kehidupan yang sekarang, maka dia harus cepat-cepat sedar dan mulai banyak berbuat amal supaya timbangan amalnya lebih berat dari dosa-dosa yang pernah dilakukannya dan boleh mengurangi masa hukumannya. 

Apabila perbuatan amalnya tidak pernah terputus maka suatu saat akan tiba masanya dia menikmati hasil kebajikannya. Inilah satu-satunya prinsip untuk mengubah nasib buruk menjadi nasib baik.

Pada zaman dinasti Ming, ada seorang laki-laki bernama Yen Le Fan. Dia secara jangka panjang melakukan perbuatan amal tanpa putus-putusnya dan telah mengubah nasib dari pendek umur, tidak punya anak dan tidak terkenal menjadi sebaliknya. Inilah cerita selengkapnya: 

Yen Le Fan tinggal di Ciang Nan, masa mudanya keadaan keluarganya miskin. Suatu hari dia jalan-jalan ke Kuil Chi Yin dan bertemu dengan orang tua “Kong”, rupanya Kong adalah seorang peramal handal dan Yen mengundang si orang tua ini pulang untuk meramal keluarganya. 

Ternyata semua yang disebutkan benar-benar tepat dan pada saat giliran Yen diramal, Kong dengan tidak ragu-ragu mengatakan bahwa pada umur sekian dia akan lulus ujian sarjana muda, pada umur sekian lulus ujian sarjana, tapi dia tidak akan lulus ujian untuk menjawat jawatan di pejabat tinggi dan hanya akan menjadi pegawai rendahan. Tidak akan punya anak. Umurnya hanya 53 tahun, meninggal pada 14 Ogos jam 9.00 pagi.

Setelah lewat beberapa tahun, semua yang diramalkan benar-benar terjadi, sehingga Yen percaya bahwa nasib baik dan buruk sudah ditentukan sejak lahir dan tidak mungkin dilawan, maka sejak itu Yen tidak pernah punya cita-cita, dia hanya menjalankan hidup sesuai nasib.

Suatu hari Yen pergi ke Nan King dan disana dia bertemu dengan seorang Sami Bhiksu. 

Samu Bhiksu tersebut menjelaskan kepada Yen mengenai hukum sebab-akibat dan mengenai teori “Nasib kita yang menentukan , kita yang minta”. Sami Bhiksu tersebut juga menasihati Yen agar tidak menyerah kepada nasib dan berusaha mengubah nasib.

Melalui ceramah Samu Bhiksu tersebut, Yen menjadi sedar dan mengambil keputusan untuk menciptakan nasibnya sendiri. Mula-mula ia sembah sujud di hadapan Buddha dan mengakui semua kesalahan-kesalahannya di masa lampau diikuti dengan rasa penyesalan. 

Lalu kemudian bersumpah pula untuk melakukan 3000 perbuatan amal. Setiap hari dia mencatat perbuatan baik dan buruknya di buku catatan. Tidak lewat dua tahun, meskipun belum genap 3000 perbuatan amal tapi dia sudah berhasil lulus dalam ujian menjadi penjawat di pejabat tinggi. Hasil ramalan Kong kini sudah tidak menjadi. 

Sesudah itu dia bersumpah lagi untuk melakukan 3000 perbuatan amal untuk memohon anak. Ternyata belum lewat setengah tahun dia sudah berhasil mempunyai anak. Yen sangat gembira dan mereka menjadi lebih rajin berbuat amal, menolong orang miskin dan sakit, menjaga kebajikan makhluk hidup termasuk binatang dan rajin membaca kitab suci (Liam Keng). 

Sesudah genap 3000 perbuatan amal, mereka tetap rajin berbuat amal sampai akhir ayatnya dan ternyata Yen Le Fan bisa hidup sampai umur 74 tahun. Semua ramalan Kong yang terdahulu didapati tidak berlaku.

(3) SEMBAHYANG KE DEWA & BUDDHA APAKAH DAPAT MENGUBAH NASIB?

Ada banyak orang dengan tulus ikhlas bersembahyang di depan dewa dan Buddha untuk minta dilindungi, diberi rejeki, diberi nasib baik, diberi anak, diberi kesihatan, diberi jodoh, sampai-sampai ada pula yang mohon diberi panjang umur. Apakah permohonan mereka boleh dikabulkan? 

Kalau dapat, bukankah nasib boleh diubah dalam waktu yang cepat? Pertanyaan ini pasti pernah terlintas dalam fikiran kita. 

Hendak menjawab pertanyaan ini kita harus mengerti 3 hal dibawah ini:

(A) Sembah sujud dihadapan para dewa dan Buddha mempunyai makna apa?

Di negara Asia setiap hari besar perayaan, banyak sekali orang datang bersembahyang dan pada umumnya pasti mempunyai permohonan, tetapi jarang sekali diantara mereka yang mengerti makna dalam sembahyang. 

Andaikata saudara saling membunuh, merompak, menjual sambil menipu, dan setelah berhasil, saudara membeli makanan yang enak-enak untuk dipersembahkan kepada dewa-dewa sambil memohon supaya dilindungi dan diberkati…. maka bagaimana? Apakah Dewa-dewa yang berbudi luhur boleh mengabulkan doa? Kalau sehari-harinya saudara jarang berbuat amal dan tidak pernah memberi sedekah kepada fakir miskin, tetapi pada saat sembahyang anda membeli barang-barang sembahyang yang mahal sambil memohon supaya diberi rezeki… maka bagaimana?

Biarpun anda memohon sampai bagai nak rak, dewa yang benar dan berbudi luhur tidak akan menerima barang-barang anda dan mengabulkan permohonan doa anda.

Prinsipnya adalah semua permohonan kita mungkin dikabulkan oleh para Dewa dan Buddha apabila perilaku dalam kehidupan sehari-hari selalu benar dan banyak membantu orang.

Inti daripada sembahyang adalah menghormati dan rasa terima kasih kepada para dewa dan Buddha.

Umpamanya sembahyang kepada Dewi Kwan Im, kita harus menunjukkan rasa hormat dan terima kasih atas semua yang dilakukan Dewi Kwan Im iaitu berbelas kasihan dan selalu menolong orang. Selain itu dalam kehidupan sehari-hari, kita juga harus selalu ingat dan belajar berbelas kasihan seperti Dewi Kwan Im. Dalam jangka panjang secara otomatis para Dewa dan Buddha akan datang melindungi dan memberi rezeki kepada kita.

Kita harus percaya bahawa semua agama adalah baik dan mengajar perkara baik. Umpamanya, agama Kristian pada saat berdoa, seharusnya ada dalam hati merasakan hormat dan terima kasih kepada Jesus, yang mahu berkorban mati demi umat manusia. Hati belas kasihan dari Jesus seperti juga belas kasihan dari Dewi Kwan Im perlu kita hormati dan tiru, supaya lebih banyak lagi manusia di dunia ini boleh kita tolong dan dunia menjadi lebih damai apabila semua orang saling tolong-menolong.

Ada orang kata bahawa menyembah patung Dewa dan Buddha adalah penyembahan berhala. Itu adalah pendapat orang awam yang pengetahuannya dangkal, kita tidak perlu berdebat mengenai apakah patung-patung tersebut mempunyai roh dan kesaktian. Asalkan kita boleh serin-sering memandang patung-patung tersebut untuk memperingatkan kita jangan berbuat jahat dan hal-hal yang merugikan orang lain. Lebih-lebih lagi kalau kita dapat meniru semangat dari patung-patung tersebut (dulunya pernah hidup di dunia) yang pada masa hidupnya sering menolong orang dan mempraktikkan kebajikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Ini akan memberikan amal yang luar biasa kepada kita.

(B) Bersembahyang di hadapan Dewa dan Buddha apakah termasuk berbuat amal dan menanamkan kebajikan?

Teringat kejadian yang lalu, seseorang bernama Fong pernah membantu untuk mengatur Hong Shui keluarga Chou. Tuan rumah wanitanya tidak putus-putusnya mengeluh mengenai Hong Shui rumahnya yang begitu teruk, sehingga perniagaannya hampir bankrup, orang-orang serumah kerap sakit-sakit, anak sulung bergaul dengan orang yang tidak baik.

Fong hanya mendengarkannya dengan sabar. Setelah dia selesai bercerita, Fong dengan wajah serius menasihati dia untuk banyak-banyak berbuat amal supaya boleh menghilangkan hal-hal yang buruk tersebut. 

Tidak sangka begitu mendengar kata-kata Fong, dia menjawab dengan keras: ”Anda bilang saya tidak pernah berbuat amal? Saya setiap hari sembahyang kepada Thian (Tuhan) dan Buddha serta sudah bersembahyang selama 5-6 tahun. Berapa banyak wang yang sudah saya habiskan untuk membeli kertas emas untuk dibakar, perbuatan amal ini saya rasa cukup banyak tapi kenapa tidak ada balasannya juga”

Fong kembali bertanya :”Anda sudah bersembahyang kepada Buddha selama 5-6 tahun, apakah anda juga ada meniru cara hidup Buddha dengan menolong orang sakit dan miskin ?” 

Dijawabnya dengan kasar: ”Saya sendiri miskin bagaimana boleh membantu orang”.

Fong bertanya lagi: ”Jika anda tidak pernah mengeluarkan wang untuk membantu orang, apakah anda pernah mengeluarkan tenaga untuk membantu orang lain?”

Dia berfikir sebentar lalu menjawab: “Juga tidak begitu”.

Fong bertanya lagi :”Apakah anda pernah membeli ayam dan daging untuk dimakan?”

Dia menjawab: “Ya pasti pernah. Masakah lain saya tidak selera dan boleh makan”.

Fong bertanya lagi :”Anda ada wang untuk membeli ayam untuk dimakan, apakah anda pernah membeli burung untuk dilepaskan ke alam bebas?”

Dia menjawab: “Tidak pernah”.

Fong bertanya: “Anda sering bersembahyang kepada Buddha apakah anda pernah membaca kitab suci (Liam Keng) ?”. 

Dia menjawab :”Saya tidak pandai baca”.

Fong akhirnya berkata: “Dari semua pertanyaan di atas, tidak satu pun yang pernah anda lakukan, dari mana anda boleh mengharapkan balasan dari perbuatan amal anda?”.

Dia berkata: “Saya bersembahyang kepada Buddha bukankah termasuk perbuatan amal? Saya benar-benar tulus dan serius”. 

Fong berkata: “Perbuatan amal itu harus ditujukan demi kebaikan umat manusia dan makhluk hidup yang lain. Sedangkan anda sembahyang hanya memohon untuk keselamatan keluarga anda sendiri. Biar bagaimana seriusnya anda, hal ini tidak boleh dilihat sebagai berbuat amal”.

Buddha sangat berbelas kasihan dan seperti seorang ibu. Dalam hatinya dia mengharapkan semua manusia boleh terlepas dari belenggu duniawi (tumimbal-lahir). Asalkan anda boleh meniru hati fikiran Buddha untuk menolong kehidupan manusia, Buddha pasti datang untukmelindungi anda. 

Kalau anda tidak boleh meniru cara berfikirnya Buddha, meskipun setiap hari rajin sembahyang dan sujud di hadapan Buddha, juga tidak ada gunanya. Biarpun Buddha berbelas kasihan. Tapi mereka juga ada batasan dalam membagikan untung nasib (Hok-kie)”.

(C) Memohon kepada Dewa dan Buddha untuk memberikan rezeki dan Hok-kie apakah boleh?

Memohon kepada Dewa dan Buddha untuk memberikan rezeki dan Hok-kie, sampai-sampai memohon kedudukan, keturunan, jodoh, menolak bala malapetaka, penyembuhan penyakit, dan lain-lain semuanya itu pasti boleh dikabulkan. Tetapi permohonan tersebut hanya boleh dikabulkan dengan syarat iaitu harus melakukan perbuatan amal dengan jumlah tertentu. Seperti contoh cerita Yen Le Fan terdahulu di atas.

Dari sini dapat diketahui bahawa berbuat amal merupakan syarat yang sangat penting dalam dikabulkanNya permohonan kita. Memang Buddha sangat berbelas kasihan, tapi Buddha pasti tidak akan sembarangan memberi Hok-kie dan rezeki ke sembarangan orang.

Dari sini juga boleh diketahui Dewa dan Buddha pasti tidak akan meninggalkan prinsip “Menanam kebaikan mendapatkan hasil kebaikan, menanam kejahatan mendapatkan hasil kejahatan”.

Berikut juga hal yang benar-benar pernah terjadi. Tahun lalu Fong pernah berkunjung ke sebuah kuil dan melihat seorang perempuan sedang sembahyang di depan Dewa Lie Cu Sie turun dan merasuki seorang Sami Kecil sambil menuliskan pesannya yang ditujukan kepada perempuan tersebut berbentuk syair yang isinya: Menyuruh perempuan tersebut banyak-banyak berbuat amal.

Orang-orang yang hadir pada masa itu memperbincangkan petunjuk ini dan mereka menyimpulkan bahawa perempuan ini mungkin akan mendapat malapetaka. Maka mereka mengusulkan perempuan ini untuk Cuo Fu (upacara sembahyang untuk memohon penghindaran malapetaka dan berjanji akan membawa buah-buahan dan makanan setelah malapetaka sudah terhindarkan sebagai rasa terima kasih).

Perempuan ini segera saja melakukan hal tersebut. Sesudah sembahyang dia duduk dengan hati lega, demikian juga dengan orang-orang disekitarnya mengira bahawa sesudah melakukan Cuo Fu segala malapetaka boleh dihindarkan. 

Fong tidak tahan lalu maju dan berkata kepada perempuan itu :”Cu Sie ingin anda melakukan amal besar, pasti ada maksudnya. Jika anda hanya melakukan Cuo Fu mungkin tidak boleh membantu, karena Cuo Fu tidak sama dengan berbuat amal”.

Perempuan itu malah marah mendengar kata-kata Fong: ”Kamu anak muda mengerti apa !”

Saya mengerti semua orang suka dipuji dan cara Fong tadi mengkritik dia sangat tidak menyenangkan tapi Fong tetap berkata :”Membebaskan makhluk hidup dari maut adalah cara yang paling ampuh, apabila anda boleh melepaskan makhluk hidup di depan Dewa, hasilnya pasti lebih baik daripada Cuo Fu”. Sayang sekali kata-kata Fong hanya masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan.

Hal ini telah lewat kira-kira 20 hari, Fong sendiri sudah lupa akan hal itu. Suatu hari ketika Fong pergi ke kuil dan mendengar khabar perempuan tersebut sakit keras dan meninggal dunia. Fong ikut sedih mendengarnya. 

Memang ramai orang yang tidak mengerti tujuan sembahyang, baik itu orang luar maupun orang yang bersembahyang sendiri. Mereka belum mengerti tentang erti sebab-akibat kebajikan dan kejahatan serta juga erti bersembahyang yang sebenarnya.

Begitulah sedikit sebanyak kisah yang dapat dikutip.

Semoga bermanfaat diketahui dan difikir-fikirkan.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s